Thursday, March 16, 2017

Sistim Penilaian Otentik Tentang
Kemajuan Belajar Kimia Siswa
di SMAN 1 Muaro Jambi

Penilaian hasil belajar harus dilakukan dengan baik agar mendapatkan informasi yang tepat dan bermanfaat dalam perbaikan proses pembelajaran. Penilaian hasil belajar yang kurang baik meng-akibatkan informasi yang didapatkan juga kurang tepat sehingga tidak tercapai tujuan pendidikan yang sesungguhnya. Penilaian berperan sebagai program penilaian proses, kemajuan belajar, dan hasil belajar peserta didik (Docktor dan Heller, 2009). Dewasa ini metode penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh guru masih menggunakan metode penilaian dengan teknik tes saja. Metode penilaian hasil belajar dengan teknik tes tidak mampu mengukur semua aspek dalam belajar karena tes hanya dapat mengungkapkan kompetensi pengetahuan (Ovianti, 2013). Salah satu bentuk penilaian yang menekankan ketiga kompetensi di atas melalui sebuah penilaian yang menitik beratkan pada proses pembelajaran bukan pada hasil adalah penilaian autentik.
Penilaian autentik sebagai kegiatan menilai peserta didik yang menekankan pada apa yang seharusnya dinilai, baik proses maupun hasil dengan berbagai instrumen penilaian yang disesuaikan dengan tuntutan kompetensi (Kunandar, 2013). Tujuan dari penilaian autentik adalah untuk memberikan informasi yang valid dan akurat tentang apa yang diketahui serta dapat dilakukan oleh peserta didik (Mundilarto, 2010)
Penilaian otentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai (Nurhadi, 2004: 172).
Hakikat penilaian pendidikan menurut konsep authentic assesment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengindikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, guru segara bisa mengambil tindakan yang tepat. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, asesmen tidak hanya dilakukan di akhir periode (semester) pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar (seperti EBTA/Ebtanas/UAN), tetapi dilakukan bersama dan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran (Nurhadi, 2004: 168).
Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian (assesment) bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn), bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran (Nurhadi, 2004: 168).
Beberapa karakteristik penilaian otentik adalah sebagai berikut:
a.penilaian merupakan bagian dari proses pembelajaran.
b.penilaian mencerminkan hasil proses belajar pada kehidupan     nyata.
c.menggunakan bermacam-macam instrumen, pengukuran, dan metode yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar.
d.penilaian harus bersifat komprehensif dan holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran.
(Santoso, 2004).
Sedangkan Nurhadi (2004: 173) mengemukakan bahwa karakteristik authentik assesment adalah sebagai berikut:
a.melibatkan pengalaman nyata (involves real-world experience)
b.dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
c.mencakup penilaian pribadi (self assesment) dan refleksi
d.yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
e.berkesinambungan
f.terintegrasi
g.dapat digunakan sebagai umpan balik
h.kriteria keberhasilan dan kegagalan diketahui siswa dengan jelas
Tujuan penilaian otentik itu sendiri adalah untuk:
1.menilai kemampuan individu melalui tugas tertentu,
2.menentukan kebutuhan pembelajaran,
3.membantu dan mendorong siswa,
4.membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik,
5.menentukan strategi pembelajaran,
6.akuntabilitas lembaga, dan
7.meningkatkan kualitas pendidikan
Pada pelaksanaannya penilaian otentik ini dapat menggunakan berbagai jenis penilaian diantaranya adalah: 1) tes standar prestasi, 2) tes buatan guru, 3) catatan kegiatan, 4) catatan anekdot, 5) skala sikap, 6) catatan tindakan, 7) konsep pekerjaan, 8) tugas individu, 9) tugas kelompok atau kelas, 10) diskusi, 11) wawancara, 12) catatan pengamatan, 13) peta perilaku, 14) portofolio, 15) kuesioner, dan 16) pengukuran sosiometri (Santoso, 2004).

Monday, March 13, 2017


Sistim Penilaian Otentik Tentang
Kemajuan Belajar Kimia Siswa
di SMP Dan SMA

Penilaian otentik adalah proses pengumpulan informasi oleh guru tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik melalui berbagai teknik yang mampu mengungkapkan, membuktikan atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran telah benar-benar dikuasai dan dicapai (Nurhadi, 2004: 172).
Hakikat penilaian pendidikan menurut konsep authentic assesment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengindikasikan bahwa siswa mengalami kemacetan dalam belajar, guru segara bisa mengambil tindakan yang tepat. Karena gambaran tentang kemajuan belajar itu diperlukan di sepanjang proses pembelajaran, asesmen tidak hanya dilakukan di akhir periode (semester) pembelajaran seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar (seperti EBTA/Ebtanas/UAN), tetapi dilakukan bersama dan secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran (Nurhadi, 2004: 168).
Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian (assesment) bukanlah untuk mencari informasi tentang belajar siswa. Pembelajaran yang benar seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn), bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran (Nurhadi, 2004: 168).
Beberapa karakteristik penilaian otentik adalah sebagai berikut:
a.    penilaian merupakan bagian dari proses pembelajaran.
b.   penilaian mencerminkan hasil proses belajar pada kehidupan nyata.
c. menggunakan bermacam-macam instrumen, pengukuran, dan metode yang sesuai dengan karakteristik dan esensi pengalaman belajar.
d. penilaian harus bersifat komprehensif dan holistik yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran.
(Santoso, 2004).
Sedangkan Nurhadi (2004: 173) mengemukakan bahwa karakteristik authentik assesment adalah sebagai berikut:
a. melibatkan pengalaman nyata (involves real-world experience)
b. dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung
c. mencakup penilaian pribadi (self assesment) dan refleksi
d. yang diukur keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta
e. berkesinambungan
f. terintegrasi
g. dapat digunakan sebagai umpan balik
h. kriteria keberhasilan dan kegagalan diketahui siswa dengan jelas
Tujuan penilaian otentik itu sendiri adalah untuk:
1.   menilai kemampuan individu melalui tugas tertentu,
2.   menentukan kebutuhan pembelajaran,
3.   membantu dan mendorong siswa,
4.   membantu dan mendorong guru untuk mengajar yang lebih baik,
5.   menentukan strategi pembelajaran,
6.   akuntabilitas lembaga, dan
7.   meningkatkan kualitas pendidikan
Pada pelaksanaannya penilaian otentik ini dapat menggunakan berbagai jenis penilaian diantaranya adalah: 1) tes standar prestasi, 2) tes buatan guru, 3) catatan kegiatan, 4) catatan anekdot, 5) skala sikap, 6) catatan tindakan, 7) konsep pekerjaan, 8) tugas individu, 9) tugas kelompok atau kelas, 10) diskusi, 11) wawancara, 12) catatan pengamatan, 13) peta perilaku, 14) portofolio, 15) kuesioner, dan 16) pengukuran sosiometri (Santoso, 2004).

PERMASALAHAN
Berdasarkan hal diatas, penilaian otentik mana saja yang telah teman-teman rasakan dalam pembelajaran di SMA dahulu dan adakah dampak positif dari penilaian demikian?


Kendala Implementasi K-13 Dalam Pembelajaran Kimia Di SMP Dan SMA

Image result for kurikulum 2013

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh kelompok 1 dilapangan yaitu dilakukan pada SMA 1 Muaro Jambi, terdapat beberapa kendala yang dialami guru  khususnya guru mata pelajaran kimia dalam implementasi K-13 di sekolah tersebut sampai saat ini, kendala tersebut diantaranya :

1.   Sulitnya menerapkan student center dari teacher senter pada siswa karena kurangnya kesiapan siswa untuk mencari dan memahami materi khususnya materi kimia walaupun dilakukan dengan kelompok kecil. Hal ini juga berdampak pada saat dilakukan presentasi yang menimbulkan adanya beberapa miskonsepsi pada siswa.

2.   Sumber belajar yang kurang memadai untuk mata pelajaran kimia.

3. Sarana dan prasara seperti yang kurang memadai. Dibuktikan dengan kurangnya ketersedian proyektor infocus yang membuat terhambatnya rencana guru untuk membuat forum-forum diskusi yang menggunakan media pembelajaran seperti power point dan sebagainya.

4. Adanya beberapa pokok bahasan yang dihilangkan dalam satu materi pemebelajaran (materi lebih dirampingkan).

Saturday, March 4, 2017

Kendala Implementasi K-13 Dalam Pembelajaran Kimia Di SMP Dan SMA

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, danbahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Jika dihitung Indonesia telah mengalami perubahan kurikulum sebanyak 11 (sebelas) macam, antara lain: Tahun 1947 disebut Rencana Pelajaran : Dirinci Dalam Rencana Pelajaran Terurai, 1964 Rencana Pendidikan Dasar, Tahun 1968 Kurikulum Sekolah Dasar, tahun 1974 Kurikulum PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan), Tahun 1975 Kurikulum Sekolah Dasar, Tahun 1984 : Desain Kurikulum 1984. Tahun 1994 : Desain Kurikulum 1994, Tahun 1997: Revisi Kurikulum 1994, Tahun 2004 : Rintisan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Tahun 2006: Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan Tahun 2013 : Kurikulum 2013.
Kurikulum Pendidikan 2013 oleh Mendikbud M Nuh sudah mulai diberlakukan 2 tahun belakangan ini. Kurikulum baru tersebut mulai diterapkan di kelas I dan IV (SD),  kelas VII (SMP), dan kelas X (SMA/SMK). Penyusunan kurikulum tidak melibatkan guru, sosialisasi dan uji publik sangat kurang. Kurikulum baru nanti juga akan banyak mengalami kendala di lapangan, di antaranya kesulitan guru ketika akan mengajarkan materi IPA yang digabungkan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Kurikulum 2013 lebih menekan kan pada pendidikan karakter untuk siswa dan siswa dituntut aktif bertanya melalui pengamatan dari lingkungan sekitarnya. Sehingga disetiap  jam pelajaran yang diajarkan terdapat mata pelajaran pendidikan agama Islam dan pendidikan pancasila. Oleh karena itu guru merasa tebebani karena harus mengajarkan mata pelajaran yang bukan bidangnya.
Guru akan diberi silabus siap pakai, buku wajib siap pakai, RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) siap pakai, dan sebagainya tanpa mempertimbangkan kebutuhan dan konteks masing-masing sekolah. Memang secara teknis dalam pelaksanaan tugas, guru dibuat lebih ringan dan mudah dalam mempersiapkan administrasi dan materi pelajaran, tetapi kita mungkin tidak sadar bahwa ini sebenarnya merupakan sebuah kemunduran. Namun, diringkasnya beberapa mata pelajarana ini membuat para guru menjadi kesulitan untuk mengajar sebab pemangkasan mata pelajaran dan menggabungkan kedalam satu mata pelajaran tetapi tidak ada penamabahan jam pelajaran.
Banyak proses penting yang tidak dilaksanakan dengan baik seiring dengan kemunculan kurikulum tersebut. Antara lain, penyusunan kurikulum tidak melibatkan guru, sosialisasi dan uji publik sangat kurang.  Kurikulum baru nanti juga akan banyak mengalami kendala di lapangan, di antaranya kesulitan guru ketika akan mengajarkan materi IPA yang digabungkan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Cara pengajaran pada kurikulum 2013 menutut guru menggunakan media elektronik dalam pengajarannya. Padahal tidak semua guru bisa menggunakan media elektronik seperti laptop maupun komputer. Sarana prasarana yang disediakan sekolah juga kurang sebab tidak semua sekolah menyediakan alat penunjang pengajaran didalam kelas. Hal ini menyebabkan tidak adanya pembelajaran TIK didalam kelas yang diharapkan ada unsur TIK didalamnya kecuali di SMK dengan jurusan tertentu masih tidak dipadukan dengan pelajaran lain.



PERMASALAHAN


Melihat berbagai kelemahan dan kendala dari kurikulum 2013, apa yang harus kita persiapkan sebagai seorang guru muda untuk meminimalisir kendala penerapan dari kurikulum 2013 tersebut? 
MISKONSEPSI

Miskonsepsi atau salah konsep merupakan konsep yang tidak sesuai dengan konsep yang diterima secara umum atau konsep yang diterima oleh orang banyak. Dapat juga diartikan dengan konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima para ilmuwan pada bidang yang bersangkutan.
Miskonsepsi terbentuk secara alami dan tidak terelakkan, miskonsepsi merupakan bagian dari proses belajar. Apabila tidak segera diluruskan, miskonsepsi sering di bawa siswa dari tingkat sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi.
Menurut Katu (dalam Asma & Masril, 2002), untuk mendeteksi miskonsepsi dapat dilakukan sebagai berikut. 
1.       Memberi tes diagnostik pada awal perkuliahan atau pada setiap akhir pembahasan. Bentuknya dapat berupa tes obyektif pilihan ganda atau bentuk lain seperti menggambarkan diagram fisis atau vektoris, grafik, atau penjelasan dengan kata-kata. 
2.      Dengan memberikan tugas-tugas terstruktur misalnya tugas mandiri atau kelompok sebagai tugas akhir pengajaran atau tugas pekerjaan rumah. 
3.      Dengan memberikan pertanyaan terbuka, pertanyaan terbalik (reverse question) atau pertanyaan yang kaya konteks (context-rich problem). 
4.     Dengan mengoreksi langkah-langkah yang digunakan siswa atau mahasiswa dalam menyelesaikan soal-soal esai. 
5.      Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka secara lisan kepada siswa atau mahasiswa. 

6.     Dengan mewawancarai misalnya dengan menggunakan kartu pertanyaan.




PERMASALAHAN
Menurut teman-teman, apa sajakah factor-faktor yang menyebabkan miskonsepsi dalam pembelajaran di kelas?