DIAGNOSIS DAN TINDAKAN KLINIS MENGATASI KESULITAN SISWA YANG MALAS BELAJAR
1.
Pengertian
Kesulitan Belajar
Setiap siswa pada prinsipnya tentu
berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik (academic
performance) yang memuaskan. Namun, dari kenyataan sehari-hari tampak jelas
bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan
fisik, latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan belajar yang terkadang
sangat mencolok antara seorang siswa dengan siswa lainnya.
Sementara itu, penyelenggaraan
pendidikan di sekolah-sekolah kita pada umumnya hanya ditujukan kepada para
siswa yang berkemampuan rata-rata, sehingga siswa yang berkemampuan lebih atau
yang berkemampuan kurang itu terabaikan. Dengan demikian, siswa-siswa yang
berkategori “di luar rata-rata” itu (sangat pintar dan sangat bodoh) tidak
mendapat kesempatan yang memadai untuk berkembang sesuai dengan kapasitasnya.
Kesulitan
belajar adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau
di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar
yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi,
berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi
integrasi sensori motorik (Clement, dalam Weiner, 2003). Berdasarkan pandangan
Clement tersebut maka pengertian kesulitan belajar adalah kondisi yang
merupakan sindrom multidimensional yang bermanifestasi sebagai kesulitan
belajar spesifik (spesific learning disabilities), hiperaktivitas dan/atau
distraktibilitas dan masalah emosional
Dari sini timbullah apa yang disebut
kesulitan belajar (learning difficulty) yang tidak hanya menimpa siswa
berkemampuan rendah saja, tetapi juga dialami oleh siswa yang berkemampuan
tinggi. Selain itu kesulitan belajar juga dapat dialami oleh siswa yang
berkemampuan rata-rata (normal) disebabkan oleh faktor-faktor tertentu yang
menghambat tercapainya kinerja akademik yang sesuai dengan harapan.
2.
Diagnosis
Kesulitan Belajar
Diagnosis merupakan istilah teknis
(terminology) yang kita adopsi dari bidang medis. Menurut Thorndike dan Hagen
(1955:530-532), diagnosis dapat diartikan sebagai
- Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang saksama mengenai gejala-gejalanya.
- Studi yang saksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kesalahan-kesalahan dan sebagainya yang sesensial.
- Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang saksama atas gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal.
Dari
ketiga pengertian tersebut diatas, dapat kita maklumi bahwa di dalam konsep
diagnosis, secara implicit telah tersimpul pula konsep prognosisnya. Dengan
demikian, di dalam pekerjaan diagnostic bukan hanya sekedar mengidentifikasi
jenis dan karakteristiknya, serta latar belakang dari suatu kelemahan atau
penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan
kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.
Sebelum menetapkan alternatif
pemecahan masalah kesulitan belajar siswa, guru sangat dianjurkan terlebih
dahulu melakukan identifikasi (upaya mengenal gejala dengan cermat) terhadap
fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya kesulitan belajar yang melanda
siswa tersebut. Upaya seperti ini disebut diagnosis yang bertujuan menetapkan
“jenis penyakit” yakni jenis kesulitan belajar siswa
Dalam melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang
terdiri atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya
kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini
dikenal sebagai “diagnostik” kesulitan belajar.
Banyak langkah-langkah diagnostik
yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur
Weener & Senf (1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai
berikut:
1) Melakukan observasi kelas untuk
melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
2) Memeriksa penglihatan dan pendengran
siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.
3) Mewawancarai orang tua atau wali
siswa untuk mengetahui hal ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan
belajar.
4) Memberikan tes diagnostik bidang
kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami
siswa.
5) Memberikan tes kemampuan intelegensi
(IQ) khsusnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.
3.
Ciri-Ciri Kesulitan Belajar dan Gejalanya
1.
Gangguan Persepsi Visual
· Melihat
huruf/angka dengan posisi yang berbeda dari yang tertulis, sehingga seringkali
terbalik dalam menuliskannya kembali.
·
Sering tertinggal huruf
dalam menulis. Menuliskan kata dengan urutan yang salah misalnya: ibu ditulis
ubi.
·
Kacau
(sulit memahami) antara kanan dan kiri.
·
Bingung membedakan antara
obyek utama dan latar belakang.
·
Sulit mengkoordinasi antara
mata (penglihatan) dengan tindakan (tangan, kaki dan lain-lain).
- Gangguan Persepsi Auditori
- Sulit membedakan bunyi; menangkap secara berbeda apa yang didengarnya.
- Sulit memahami perintah, terutama beberapa perintah sekaligus.
- Bingung/kacau dengan bunyi yang datang dari berbagai penjuru (sulit menyaring) sehingga susah mengikuti diskusi, karena sementara mencoba memahami apa yang sedang didengar, sudah datang suara (masalah) lain.
- Sulit memahami/menangkap apa yang dikatakan orang kepadanya.
- Sulit mengkoordinasikan/mengatakan apa yang sedang dipikirkan.
- Kesulitan motorik halus (sulit mewarnai, menggunting, menempel, dsb.)
- Memiliki masalah dalam koordinasi dan disorientasi yang mengakibatkan canggung dan kaku dalam gerakannya.
- Sukar mengontrol aktifitas motorik dan selalu bergerak (tak bisa diam)
- Berpindah-pindah dan satu tugas ke tugas lain tanpa menyelesaikannya
- Tidak dapat membedakan stimulus yang penting dan tidak penting.
- Tidak teratur, karena tidak memiliki urutan- urutan dalam proses pemikiran.
- Perhatiannya sering berbeda dengan apa yang sedang dikerjakan
4.
Jenis Kesulitan Belajar
Jenis
kesulitan belajar ini dapat dikelompokkan menjadi empat macam, yaitu sebagai
berikut:
Dilihat
dari jenis kesulitan belajar: ada yang berat ada yang sedang. Dilihat dari
bidang studi yang dipelajari: ada yang sebagian bidang studi yang dipelajari,
dan ada yang keseluruhan bidang studi. Dilihat dari sifat kesulitannya:
ada yang sifatnya permanen / menetap, dan ada yang sifatnya hanya sementara.
Dilihat dari segi factor penyebabnya: ada yang Karena factor intelligensi, dan
ada yang karena factor bukan intelligensi.Dalam kegiatan pembelajaran di
sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka
ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan
berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa
yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan.
Kesulitan
belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai
hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis.
Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a)
learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow
learner, dan (e) learning diasbilities.
1.Learning
Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana
proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan.
Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak
dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya
respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih
rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan
olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami
kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
2.Learning
Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang
dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut
tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau
gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh
yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena
tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai dengan
baik.
3.Under
Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya
memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi
prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites
kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ =
130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau rendah.
4.Slow
Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat
dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama
dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang
sama.
5.Learning
Disabilities atau ketidakmampuan belajar
mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar,
sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.
5.
Faktor-Faktor
Penyebab Kesulitan Belajar
Fenomena kesulitan belajar seorang
siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau prestasi
belajarnya. Namun, kesulitan belajar juga dapat dibuktikan dengan munculnya
kelainan perilaku (misbehavior) siswa seperti kesukaan berteriak-teriak di
dalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk kuliah, dan sering
minggat dari sekolah.
Secara garis besar, faktor-faktor
penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam:
1. Faktor intern siswa, yakni hal-hal
atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam siswa sendiri.
2. Faktor ektern siswa, yakni hal-hal
atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa.
Kedua
faktor ini meliputi aneka ragam hal dan keadaan yang antara lain tersebut
dibawah ini.
a. Faktor intern siswa
Faktor intern siswa meliputi gangguan atau ketidakmampuan
psiko-fisik siswa, yakni:
1) Yang bersifat kognitif (ranah
cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi siswa.
2) Yang bersifat afektif (ranah rasa),
antara lain seperti labilnya emosi dan sikap.
3) Yang bersifat psikomotor (ranah
karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihatan dan
pendengar (mata dan telinga)
- Fisiologi
Faktor fisiologi adalah factor fisik dari anak itu
sendiri. seorang anak yang sedang sakit, tentunya akan mengalami kelemahan
secara fisik, sehingga proses menerima pelajaran, memahami pelajaran menjadi
tidak sempurna. Selain sakit factor fisiologis yang perlu kita perhatikan
karena dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah cacat
tubuh, yang dapat kita bagi lagi menjadi cacat tubuh yang ringan seperti kurang
pendengaran, kurang penglihatan, serta gangguan gerak, serta cacat tubuh yang
tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu, dan lain sebagainya.
2. Psikologis
Faktor psikologis adalah berbagai hal yang berkenaan
dengan berbagai perilaku yang ada dibutuhkan dalam belajar. Sebagaimana kita
ketahui bahwa belajar tentunya memerlukan sebuah kesiapan, ketenangan, rasa
aman. Selain itu yang juga termasuk dalam factor psikoogis ini adalah
intelligensi yang dimiliki oleh anak. Anak yang memiliki IQ cerdas (110 – 140),
atu genius (lebih dari 140) memiliki potensi untuk memahami pelajaran dengan
cepat. Sedangkan anak-anak yang tergolong sedang (90 – 110) tentunya tidak
terlalu mengalami masalah walaupun juga pencapaiannya tidak terlalu tinggi.
Sedangkan anak yang memiliki IQ dibawah 90 ataubahkan dibawah 60 tentunya
memiliki potensi mengalami kesulitan dalam masalah belajar. Untuk itu, maka
orang tua, serta guru perlu mengetahui tingkat IQ yang dimiliki anak atau anak
didiknya. Selain IQ factor psikologis yang dapat menjadi penyebab munculnya
masalah kesulitan belajar adalah bakat, minat, motivasi, kondisi kesehatan
mental anak, dan juga tipe anak dalam belajar.
b. Faktor ektern siswa
Faktor ektern siswa meliputi semua situasi dan kondisi
lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Dari lingkungannya
dibagi menjadi 3 macam:
- Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara ayah dan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
- Lingkungan perkampungan/masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
- Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
Adapun faktor-faktor ekternnya
adalah sebagai berikut:
6.
Sosial.
Yaitu faktor-faktor seperti cara mendidik anak oleh orang
tua mereka di rumah. Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian yang cukup
tentunya akan berbeda dengan anak-anak yang cukup mendapatkan perhatian, atau
anak yang terlalu diberikan perhatian. Selain itu juga bagimana hubungan orang
tua dengan anak, apakah harmonis, atau jarang bertemu, atau bahkan terpisah.
Hal ini tentunya juga memberikan pengaruh pada kebiasaan belajar anak.
7. Non-social
Faktor-faktor non-sosial yang dapat menjadi penyebab
munculnya masalah kesulitan belajar adalah factor guru di sekolah, kurikulum
dan sebagainya.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli yang menaruh perhatian terhadap masalah kesulitan belajar, ditemukan sejumlah faktor penyebabnya, diantaranya:
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli yang menaruh perhatian terhadap masalah kesulitan belajar, ditemukan sejumlah faktor penyebabnya, diantaranya:
1)
Keturunan
Di
Swedia, Hallgren melakukan penelitian dengan objek keluarga dan menemukan
rata-rata anggota tersebut mengalami kesulitan dalam membaca, menulis dan
mengija, setelah diteliti secara lebih mendalam, ternyata salah satu faktor
penyebabnya adalah faktor keturunan.
2)
Otak
Ada
pendapat yang menyatakan bahwa anak yang lamban belajar mengalami gangguan pada
syaraf otaknya. Pendapat ini telah menjadi perdebatan yang cukup sengit.
Beberapa peneliti menganggap bahwa terdapat kesamaan ciri pada perilaku anak
yang mengalami kelambanan atau kesulitan belajar dengan anak yan ab-normal.
Hanya saja anak yang lamban atau kesulitan belajar memiliki adanya sedikit
tanda cedera pada otak, oleh karena itu para ahli tidak terlalu menganggap
cedera otak sebagai penyebabnya, kecuali ahli syaraf membuktikan ini.
3)
Pemikiran
Siswa
yang mengalami kesulitan belajar akan menmgalami kesulitan dalam menerima
penjelasan tentang pelajaran. Salah satu penyebabnya adalah mereka tidak dapat
mengorganisasikan cara berpikir secara baik dan sistematis. Para ahli berpendapat
bahwa mereka perlu dilatih berulang-ulang, dengan tujuan meningkatkan daya
belajarnya.
4)
Gizi
Berdasarkan
penelitian para ahli yang dilakukan terhadap anak-anak dan binatang, ditemukan
bahwa ada kaitan yang erat antara kesulitan belajar dengan kekurangan gizi.
Artinya, kekurangan gizi menjadi salah satu penyebab terjadinya kelambanan atau
kesulitan belajar.
5)
Lingkungan
Faktor-faktor
lingkungan adalah hal-hal yang tidak menguntungkan yang dapat nengganggu
perkembngan mental anak, baik yang terjadi di dalam keluarga, sekolah maupun
lingkungan masyarakat. Meskipun faktor ini dapat pengaruhi kesulitan belajar,
tetapi bukan satu-satunya faktor penyebab terjadinya kesulitan belajar. Namun,
yang pasti faktor tersebut dapat mengganggu ingatan dan daya konsentrasi anak.
6)
Biokimia
Pengaruh
penggunaan obat atau bahan kimia lain terhadap kesulitan belajar masih menjadi
kontroversi. Penelitian yang dilakukan oleh Adelman dan Comfers (dalam Kirk
& Ghallager, 1986) menemukan bahwa obat stimulan dalam jangka pendek dapat
mengurangi hiperaktivitas. Namun beberapa tahun kemudian penelitian Levy (dalam
Kirk & Ghallager, 1986) membuktikan hal yang sebaliknya. Penemuan
kontroversial oleh Feingold menyebutkan bahwa alergi, perasa dan pewarna buatan
hiperkinesis pada anak yang kemudian akan menyebabkan kesulitan belajar. Ia
lalu merekomendasikan diet salisilat dan bahan makanan buatan kepada anak-anak
yang mengalami kesulitan belajar.
Selain faktor-faktor yang bersifat
umum diatas, adapula faktor yang yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa.
Diantara faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai faktor khusus ini ialah
sindrom psikologis berupa learning disability (ketidakmampuan belajar). Sindrom
(syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indikator adanya
keabnormalan psikis (Reber,1998) yang menimbulkan kesulitan belajar itu.
a.Disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan membaca.
b.Disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar
menulis.
c.Diskalkulia (dyscalculia), yakni ketidakmampuan belajar
matematika.
Akan tetapi, siswa yang mengalami
sindrom-sindrom diatas secara umum sebenarnya memiliki potensi IQ yang normal
bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Oleh
karenanya, kesulitan belajar siswa yang menderita sindrom-sindrom tadi mungkin
hanya disebabkan oleh adanya minimal brain dysfunction, yaitu gangguan ringan
pada otak (Lask, 1985: Rebert, 1988).
6.
Prosedur dan Teknik Diagnosis
Kesulitan Belajar
Ross dan Stanley (1956:332-341)
menggariskan tahapan – tahapan diagnosis seperti yang tersaji pada halaman
selanjutnya. Dari skema tersebut, tampak bahwa keempat langkah yang
pertama dari diagnosis itu merupakan usaha perbaikan (corrective diagnosis)
atau penyembuhan (curative). Sedangkan langkah yang kelima merupakan usaha
pencegahan (preventive). Sedangkan menurut Burton
(1952:640-652) penggolongan tahapan – tahapan diagnosis tidak didasarkan pada
usaha penanganan, tetapi didasarkan pada teknik dan instrumen yang digunakan
dalam pelaksanaannya, seperti dibawah ini :
1
General
Diagnosis
Pada tahap ini lazim dipergunakan
tes baku, seperti yang dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis
dan hasil belajar. Sasarannya, untuk menemukan siapakah siswa yang diduga
mengalami kelemahan tertentu.
2 Analistic Diagnosis
Pada tahap ini yang lazim digunakan
ialah tes diagnostik. Sasarannya, untuk mengetahui dimana letak kelemahan
tersebut.
7.
Psychological Diagnosis
Pada tahap ini teknik pendekatan dan
instrumen yang digunakan antara lain :
- Observasi
- Analisis Karya Tulis
- Analisis Proses dan respon lisan
- Analisis berbagai catatan objektif
- Wawancara
- Pendekatan laboratories dan klinis
- Studi Kasus
Sasaran kegiatan diagnosis pada langkah ini pada dasarnya digunakan untuk
memahami karakteristik dan faktor – faktor penyebab terjadinya kesulitan. Jika
output dari layanan bimbingan belajar berupa perubahan pada diri siswa
(terbimbing). Setelah menjalani tindakan penyembuhan (treatment). Maka output
dari layanan diagnosis kesulitan belajar hanya sampai pada rekomendasi tentang
kemungkinan alternatif tindakan penyembuhan.
PERMASALAHAN
Bagaimana trik-trik
kita sebagai calon guru untuk mengatasi rasa malas belajar pada siswa terkhusus
pada pelajaran kimia?
Menurut saya dengan menerapkan model pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan. disini juga perlu kreativitas seorang guru dalam mengolah suatu materi tersebut agar pada saat penyampaian materi siswa yang mendengarkan tidak bosan. siswa juga dilibatkan dalam proses pembelajaran jangan hanya guru yang berceramah didepan agar proses pembelajaran menjadi interaktif.
ReplyDeleteBenar apa yang dikatakan saudari rini, yaitu dengan cara menerapkan model pembelajaran yang menarik misalnya belajar sambil bermain, metode diskusi kelompk dan lain2. Namun bukan hanya itu, guru juga perlu menggunakan media pembelajaran sebagai alat bantu untuk menyampaikan materi kimia yang kebanyakan bersifat abstak misalmya dengan menggunakan animasi2 bergerak atau menayangkan video dan lain sebagainya. Yang tidak kalah penting lagi, guru harus mengetahui mood siswa tersebut. Apa yang membuat siswa tersebut nyaman saat belajar, dan apa yang tidak di sukai siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Deletemenurut saya guru harus pintar dalam mengelola kelas, kalau siswanya berfikir A guru harus lebih dulu berfikir B, C.. dan guru harus memfariasikan cara belajar agar siswanya tidak mudah bosan
ReplyDeletepembelajaran kimia selalu dianggap abstrak maka dari itu sebagai guru haruslah mengubah pola pembelajaran yang menyenangkan dengan mengaitkan materi yang disampaikan dengan kenyataan yang ada dalam kehidupan sehari-hari dengan begitu siswa tertantang dan berpikir bahwa kimia ada manfaatnya dalam kehidupan. penerapan model dan metode pembelajaran juga sangat berpengaruh
ReplyDelete