Thursday, February 23, 2017

TUGAS 1


Membuat Concept Map (Peta Konsep)




Kamis, 23 Februari 2017

M I S K O N S E P S I

Image result for miskonsepsi

Wartono, dkk (2004:10) mengemukakan konsep adalah gagasan atau abtraksi yang dibentuk untuk menyederhanakan lingkungan. Sedangkan Euwe van den Berg (1991:8) mengemukakan konsep merupakan abstraksi dari ciri-ciri sesuatu yang mempermudah komunikasi antara manusia dan yang memungkinkan manusia berfikir. Konsep dibentuk dengan menggolongkan hasil-hasil pengamatan  dalam suatu kategori tertentu. Konsep disebut abstraksi karena konsep menyatakan proses penggambaran pada berbagai pengalaman aktual.

Konsep tersusun sebagai penggambaran mental atas pengalaman yang teramati.Sebelum siswa mempelajari suatu konsep, siswa sudah memiliki konsepsi terhadap konsep yang akan dipelajari. Konsepsi tersebut terus berkembang dari pengalaman belajar mereka sehari-hari dalam memahami gejala atau fenomena alam, maupun dari pengalaman belajar mereka pada jenjang pendidikan sebelumnya (Mariawan, 2002).

Menurut Duit (1996), konsepsi adalah representasi mental mengenai ciri-ciri dunia luar atau domain-domain teoritik. Konsepsi merupakan perwujudan dari interpretasi seseorang terhadap suatu obyek yang diamatinya yang sering bahkan selalu muncul sebelum pembelajaran, sehingga sering diistilahkan konsepsi prapembelajaran. Konsepsi prapembelajaran dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu prakonsepsi (preconception) dan miskonsepsi (misconception). Prakonsepsi adalah konsepsi yang berdasarkan pengalaman formal dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan miskonsepsi adalah salah pemahaman yang disebabkan oleh pembelajaran sebelumnya dan kesalahan yang berkaitan dengan prakonsepsi pada umumnya. Prakonsepsi ini bersumber dari pikiran siswa sendiri atas pemahamannya yang masih terbatas pada alam sekitarnya atau sumber-sumber lain yang dianggapnya lebih tahu akan tetapi tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Miskonsepsi atau salah konsep merupakan konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima para ilmuwan pada bidang yang bersangkutan (Suparno, 2005). Novak (dalam Suparno, 2005) menyatakan bahwa prakonsepsi yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmiah disebut dengan miskonsepsi. Brown (dalam Suparno, 2005) memandang miskonsepsi sebagai suatu pandangan yang naif dan mendefinisikan miskonsepsi sebagai suatu gagasan yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmiah. 
Fowler (dalam Suparno, 2005) memandang miskonsepsi sebagai suatu pengertian yang tidak akurat terhadap konsep, penggunaan konsep yang salah, klasifikasi contoh-contoh yang salah, kekacauan konsep-konsep yang berbeda, dan hubungan konsep-konsep yang tidak benar. Bentuk miskonsepsi dapat berupa kesalahan konsep, hubungan yang tidak benar antar konsep, dan gagasan intuitif atau pandangan yang naif (Suparno, 2005). 

Ø Sumber-sumber Miskonsepsi
Suparno (2005) menjelaskan ada lima faktor yang merupakan penyebab miskonsepsi pada siswa, yaitu : 1) siswa, 2) guru, 3) buku teks, 4) konteks, dan 5) metode mengajar. 

1)     Siswa
Miskonsepsi yang berasal dari siswa dapat dikelompokkan dalam 8 kategori, sebagai berikut.
a.     Prakonsepsi atau konsep awal siswa. Banyak siswa sudah mempunyai konsep awal sebelum mereka mengikuti pelajaran di sekolah. Prakonsepsi sering bersifat miskonsepsi karena penalaran seseorang terhadap suatu fenomena berbeda-beda. 
b.     Pemikiran asosiatif yaitu jenis pemikiran yang mengasosiasikan atau menganggap suatu konsep selalu sama dengan konsep yang lain. Asosiasi siswa terhadap istilah yang ditemukan dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari sering menimbulkan salah penafsiran. 
c.     Pemikiran humanistik yaitu memandang semua benda dari pandangan manusiawi. Tingkah laku benda dipahami sebagai tingkah laku makhluk hidup, sehingga tidak cocok. 
d.     Reasoning atau penalaran yang tidak lengkap atau salah. Alasan yang tidak lengkap diperoleh dari informasi yang tidak lengkap pula. Akibatnya siswa akan menarik kesimpulan yang salah dan menimbulkan miskonsepsi. 
e.     Intuisi yang salah, yaitu suatu perasaan dalam diri seseorang yang secara spontan mengungkapkan sikap atau gagasannya tentang sesuatu tanpa penelitian secara obyektif dan rasional. Pola pikir intuitif sering dikenal dengan pola pikir yang spontan. 
f.      Tahap perkembangan kognitif siswa. Secara umum, siswa yang dalam proses perkembangan kognitif akan sulit memahami konsep yang abstrak. Dalam hal ini, siswa baru belajar pada hal-hal yang konkrit yang dapat dilihat dengan indera. 
g.     Kemampuan siswa. Siswa yang kurang mampu dalam mempelajari fisika akan menemukan kesulitan dalam memahami konsep-konsep yang diajarkan. Secara umum, siswa yang tingkat matematika-logisnya tinggi akan mengalami kesulitan memahami konsep fisika, terlebih konsep yang abstrak.
h.    Minat belajar. Siswa yang memiliki minat belajar fisika yang besar akan sedikit mengalami miskonsepsi dibandingkan siswa yang tidak berminat. 

2)    Guru
Guru yang tidak menguasai bahan atau tidak memahami konsep fisika dengan benar juga merupakan salah satu penyebab miskonsepsi siswa. Guru terkadang menyampaikan konsep fisika yang kompleks secara sederhana dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman siswa. Kadang-kadang guru mengutamakan penyampaian rumusan matematis sedangkan penyampaian konsep fisisnya dikesampingkan. Pola pengajaran guru masih terpaku pada papan tulis, jarang melakukan eksperimen dan penyampaian masalah yang menantang proses berpikir siswa. Miskonsepsi siswa akan semakin kuat apabila guru bersikap otoriter dan menerapkan metode ceramah dalam mengajar. Hal ini mengakibatkan interaksi yang terjadi hanya satu arah, sehingga semakin besar peluang miskonsepsi guru ditransfer langsung pada siswa. 

3)    Buku Teks 
Buku teks yang dapat mengakibatkan munculnya miskonsepsi siswa adalah buku teks yang bahasanya sulit dimengerti dan penjelasannya tidak benar. Buku teks yang terlalu sulit bagi level siswa yang sedang belajar dapat menumbuhkan miskonsepsi karena mereka sulit menangkap isinya. 

4)   Konteks
Konteks yang dimaksud di sini adalah pengalaman, bahasa sehari-hari, teman, serta keyakinan dan ajaran agama. Bahasa sebagai sumber prakonsepsi pertama sangat potensial mempengaruhi miskonsepsi, karena bahasa mengandung banyak penafsiran. 

5)    Metode Mengajar 
Metode mengajar guru yang tidak sesuai dengan konsep yang dipelajari akan dapat menimbulkan miskonsepsi. Guru yang hanya menggunakan satu metode pembelajaran untuk semua konsep akan memperbesar peluang siswa terjangkit miskonsepsi. Metode ceramah yang tidak memberikan kesempatan siswa untuk bertanya dan juga untuk mengungkapkan gagasannya sering kali meneruskan dan memupuk miskonsepsi. Penggunaan analogi yang tidak tepat juga merupakan salah satu penyebab timbulnya miskonsepsi. Metode praktikum yang sangat membantu dalam proses pemahaman, juga dapat menimbulkan miskonsepsi karena siswa hanya dapat menangkap konsep dari data-data yang diperoleh selama praktikum. Metode diskusi juga dapat berperan dalam menciptakan miskonsepsi. Bila dalam diskusi semua siswa mengalami miskonsepsi, maka miskonsepsi mereka semakin diperkuat. 

Miskonsepsi merupakan bagian dari pengetahuan yang dimiliki siswa dan bertentangan dengan pelajaran berikutnya, sedemikian sehingga informasi yang baru tidak bisa terintegrasi sewajarnya dan pemahaman siswa kurang serta miskonsepsi terhadap konsep baru tak bisa diabaikan. Pengetahuan siswa yang miskonsepsi mendorong guru untuk menemukan pertanyaan dan permasalahan yang bisa menciptakan ketidakpuasan ke dalam diri siswa terhadap pandangan yang mereka miliki. Dengan demikian akan memunculkan pengenalan gagasan ke arah situasi yang berlawanan. Ini mampu memodifikasi siswa ke arah pandangan yang baru, yang akhirnya menuju ke perubahan konseptual dan pemahaman konseptual (Kolari & Ranne, 2003). 
Miskonsepsi terbentuk secara alami dan tidak terelakkan bagian dari proses belajar. Miskonsepsi sering di bawa siswa dari tingkat sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi. Seperti yang terjadi di sekolah menengah, siswa miskonsepsi terkait konsep gaya berat. Konsep massa, gaya berat, berat/beban, kelembaman massa dan massa gravitasi juga merupakan konsep yang paling miskonsepsi di dalam ilmu fisika oleh para siswa dari sekolah menengah ke universitas (Gonen, 2008). Miskonsepsi bisa berasal dari hasil pengajaran guru yang hanya mengulangi buku catatan dan tidak mengadakan percobaan dengan kuantitas pengamatan (Kwen BOO, 2006). 
Penyampaian informasi yang kurang jelas dan kurang lengkap yang diterima oleh siswa dalam proses belajar juga diduga sebagai penyebab terjadinya miskonsepsi. Bahkan pemilihan strategi pengajaran yang kurang tepat, misalnya penggunaan analogi yang kurang tepat, dapat juga mengganggu proses berpikir siswa dan mendapat kesulitan dalam memahami konsep-konsep fisika yang dipelajari. 
Menurut Katu (dalam Asma & Masril, 2002), untuk mendeteksi miskonsepsi dapat dilakukan sebagai berikut. 
1.       Memberi tes diagnostik pada awal perkuliahan atau pada setiap akhir pembahasan. Bentuknya dapat berupa tes obyektif pilihan ganda atau bentuk lain seperti menggambarkan diagram fisis atau vektoris, grafik, atau penjelasan dengan kata-kata. 
2.      Dengan memberikan tugas-tugas terstruktur misalnya tugas mandiri atau kelompok sebagai tugas akhir pengajaran atau tugas pekerjaan rumah. 
3.      Dengan memberikan pertanyaan terbuka, pertanyaan terbalik (reverse question) atau pertanyaan yang kaya konteks (context-rich problem). 
4.     Dengan mengoreksi langkah-langkah yang digunakan siswa atau mahasiswa dalam menyelesaikan soal-soal esai. 
5.      Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka secara lisan kepada siswa atau mahasiswa. 
6.     Dengan mewawancarai misalnya dengan menggunakan kartu pertanyaan.

PERMASALAHAN

Seperti yang kita ketahui, miskonsepsi terbentuk secara alami dan tidak terelakkan dari proses belajar. Miskonsepsi yang terbentuk, apabila tidak segera diluruskan, berdampak pada konsep siswa yang akan dibawanya dari tingkat sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi. Menurut teman-teman sebagai calon peserta didik, bagaimana cara kita untuk mengetahui adanya siswa yang miskonsepsi dalam proses pembelajaran yang dilakukan? Dan bagaimana solusi untuk menghindari hal tersebut?

Wednesday, February 22, 2017

Kamis, 23 Februari 2017

Higher – Order Thinking in Chemistry
Teaching and Learning

Berpikir Tingkat Tinggi pada
Belajar dan Pembelajaran Kimia


Image result for berpikir


A.  KETERAMPILAN BERPIKIR

Keterampilan berpikir merupakan suatu proses kognitif yang digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu contoh keterampilan berpikir adalah proses menarik kesimpulan dimana kemampuan yang ditunjukan adalah menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan.

B.  BERPIKIR TINGKAT TINGGI
Apa yang dimaksud dengan berpikir tingkat tinggi? roses berpikir tingkat tinggi dapat terjadi ketika seseorang dapat memanfaatkan pengetahuan dan informasi baru dan informasi yang tersimpan dalam memori (seperti pengalaman) dan saling terhubungkan atau menata kembali dan memperluas informasi ini untuk mencapai tujuan  atau menemukan jawaban dalam situasi membingungkan yang dihadapi. Berpikir tingkat tinggi dapat kita kaitan dengan Taksonomi Bloom, terdapat tiga aspek dalam ranah kognitif yang menjadi bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking. Ketiga aspek itu adalah aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta. Sedang tiga aspek lain dalam ranah yang sama, yaitu aspek mengingat, aspek memahami, dan aspek aplikasi, masuk dalam bagian intilektual berpikir tingkat rendah atau lower order thinking.
C.  KARAKTERISTIK DARI BERPIKIR TINGKAT TINGGI

Ø Dapat Memberi Lebih dari Satu Alternatif Kemungkinan
Seseorang dapat dikatakan berpikir tingkat tinggi apabila memiliki lebih dari satu alternatif solusi dalam menghadapi suatu permasalahan, terlepas dari benar salahnya alternative tersebut.

Contoh : Concept Map



Ø Dapat Menyelesaikan atau Menghasilkan Tantangan yang Lebih Kompleks
Seseorang dapat dikatakan berpikir tingkat tinggi apabila dapat menyelesaikan suatu tantangan atau permasalahan yang pada umumnya tidak dapat diselesaikan orang banyak.

Ø Terdapat Unsur Logis
Seseorang dapat dikatakan berpikir tingkat tinggi apabila terkandung unsur logis didalamnya. Pernyataannya dapat diterima dan dimengerti orang lain. Selain itu, ia juga dapat membuat suatu informasi yang bermakna denngan menghubungkan informasi dan pengetahuan yang telah ada dengan pengetahuan yang baru.

Ø Dapat Menghubungkan Sesuatu yang Tidak Ada (Jauh) Hubungannya
Seseorang dapat dikatakan berPikir tingkat tinggi apabila dapat menghubungkan sesuatu yang apabila dari sudut pandang orang awam tidak ada hubungannya. Disini ia memiliki tingkat berPikir diatas rata-rata berpikirnya orang secara umum.

D. JENIS/ KATEGORI BERPIKIR TINGKAT TINGGI

v Berpikir Kreatif
Berpikir kreatif adalah menggunakan kemampuan berpikir kita untuk membuat hubungan yang baru & hubungan yang lebih berguna dari informasi yang sebelumnya sudah kita ketahui. Berfikir kreatif diharapkan mampu menghasilkan solusi/ gagasan baru (multisolution). Biasannya permasalahan yang terdengan beresiko dapat diselesaikan oleh orang yang berfikir kreatif. Terdapat insur estetik/ seni dalam pemahamannya. Jadi berpikir kreatif tidak selalu menghasilkan sesuatu yang betul-betul baru melainkan bisa menghubungkan hal-hal yang sudah kita ketahui menjadi pengertian yang lebih sempurna.

v Berpikir Kritis
Berpikir kristis merupakan kemampuan seseorang untuk berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Orang yang memiliki kemampuan untuk berpikir secara kritis biasanya tidak langsung menerima sesuatu yang dianggap baru bagi dirinya. Mereka akan lebih mempelajari secara mendalam tentang kebenaran sesuatu tersebut, dan bisasnya seseorang yang memiliki kemampuan untuk berpikir kritis akan memiliki tingkat kecerdasan yang baik.

v Metakognisi
Metakognitif adalah kemampuan untuk mengontrol ranah atau aspek kognitif. Metakognitif mengendalikan enam tingkatan aspek kognitif yang didefinisikan oleh Benjamin Bloom dalam taksonomi Bloom yang terdiri dari tahap ingatan, pemahaman, terapan, analisis dan sintetis dan evaluasi. Biasanya orang yang berfikir metakognitif akan mencoba menguji pemahaman yang sudah ada sendiri.

E.   MELATIH SISWA UNTUK BERFIKIR TINGKAT TINGGI
Bagaimana Melatih Siswa Berpikir Tingkat Tinggi?
Di Indonesia, proses pembelajaran yang melatih siswa berpikir tingkat tinggi memiliki beberapa kendala. Salah satunya adalah terlalu dominannya peran guru di sekolah sebagai penyebar ilmu atau sumber ilmu (teacher center) belum student center; dan fokus pendidikan di sekolah lebih pada yang bersifat menghafal/pengetahuan faktual. Siswa hanya dianggap sebagai sebuah wadah yang akan diisi dengan ilmu oleh guru. Kendala lain yang sebenarnya sudah cukup klasik namun memang sulit dipecahkan, adalah sistem penilaian prestasi siswa yang lebih banyak didasarkan melalui tes-tes yang sifatnya menguji kemampuan kognitif tingkat rendah. Siswa yang dicap sebagai siswa yang pintar atau sukses adalah siswa yang lulus ujian. Ini merupakan masalah lama yang sampai sekarang masih merupakan polemik yang cukup seru bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Diperlukan Higher Order Questions (rich questions), pertanyaan yang meminta siswa untuk menyimpulkan, hypothesise, menganalisis, menerapkan, mensintesis, mengevaluasi, membandingkan, kontras atau membayangkan,  menunjukkan jawaban tingkat tinggi. Untuk menjawab Higher Order Questions (rich questions) diperlukan penalaran tingkat tinggi yaitu cara berpikir logis yang tinggi, berpikir logis yang tinggi sangat diperlukan siswa dalam proses pembelajaran di kelas khususnya dalam menjawab pertanyaan, karena siswa perlu menggunakan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang dimilikinya dan menghubungkannya ke dalam situasi baru.
Soal-soal ulangan yang dibuat oleh guru perlu memperhatikan beberapa hal:
  • Soal hendaknya menggunakan stimulus, stimulus yang baik hendaknya menyajikan informasi yang jelas, padat, mengandung konsep/gagasan inti permasalahan, dan benar secara fakta.
  • Soal yang dikembangkan harus sesuai dengan kondisi pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas maupun di luar kelas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari
  • Soal mengukur keterampilan berpikir kritis
  • Soal mengukur keterampilan pemecahan masalah. 
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang sudah mulai diterapkan di Indonesia sebenarnya cukup kondusif bagi pengembangan pembelajaran keterampilan berpikir, karena mensyaratkan siswa sebagai pusat belajar. Namun demikian, bentuk penilaian yang dilakukan terhadap kinerja siswa masih cenderung mengikuti pola lama, yaitu model soal-soal pilihan ganda yang lebih banyak memerlukan kemampuan siswa untuk menghafal. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penbelajaran keterampilan berpikir di sekolah antara lain adalah sebagai berikut:
  • Keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa
  • Keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pembelajaran suatu bidang studi
  • Pada kenyataannya siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini, sehingga perlu adanya latihan terbimbing
  • Pembelajaran keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat kepada siswa (student-centered). 
Selain beberapa prinsip di atas, satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam melatih keterampilan berpikir adalah perlunya latihan-latihan yang intensif. Seperti halnya keterampilan yang lain, dalam keterampilan berpikir siswa perlu mengulang untuk melatihnya walaupun sebenarnya keterampilan ini sudah menjadi bagian dari cara berpikirnya. Latihan rutin yang dilakukan siswa akan berdampak pada efisiensi dan otomatisasi keterampilan berpikir yang telah dimiliki siswa. Dalam proses pembelajaran di kelas, guru harus selalu menambahkan keterampilan berpikir yang baru dan mengaplikasikannya dalam pelajaran lain sehingga jumlah atau macam keterampilan berpikir siswa bertambah banyak.
Hasil penelitian Computer Tchnology Research (CTR) menunjukkan bahwa seseorang hanya dapat mengingat apa yang dilihatnya sebesar 20%, 30% dari yang didengarnya, 50% dari yang didengar dan dilihatnya, dan 80% dari yang didengar, dilihat dan dikerjakannya secara simultan. Selain itu Levie dan Levie dalam Azhar Arzad (2009: 9) yang membaca kembali hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar dan stimulus kata atau visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep. Sedangkan stimulus verbal memberikan hasil belajar yang lebih baik apabila pembelajaran itu melibatkan ingatan yang berurut-urutan (sekuensial). Dalam dunia pendidikan ada 3 model seorang siswa dalam menerima suatu pelajaran;
1. I hear and i forget ( Saya mendengar dan saya akan lupa )
2. I see and i remember ( Saya meihat dan saya akan ingat )
3. I do and i understand ( Saya melakukan dan saya akan mengerti )
Jika pengajaran keterampilan berpikir kepada siswa belum sampai pada tahap siswa dapat mengerti dan belajar menggunakannya, maka keterampilan berpikir tidak akan banyak bermanfaat.
Ada 3 tipe seorang guru dalam mengajar;
1.    Guru biasa, yaitu yang selalu menjelaskan
2.    Guru baik, yaitu yang mampu mendemonstrasikan dan
3.    Guru hebat, adalah guru yang mampu menginspirasikan, yakni guru yang mampu membawa siswanya untuk berpikir tingkat tinggi.
Pelajaran yang diajarkan dengan cara mengajak siswa untuk berpikir tingkat tinggi akan lebih cepat dimengerti oleh siswa. Jadi untuk keberhasilan penguasaan suatu materi pelajaran atau yang lain, usahakan dalam proses belajarnya selalu menggunakan cara-cara yang membuat siswa untuk selalu berpikir tingkat tinggi.

PERMASALAHAN

Di Indonesia, kita ketahui masih sulit untuk menemukan siswa yang dapat berpikit tingkat tinggi. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal ini adalah masih terlalu dominannya peran guru di sekolah sebagai penyebar ilmu atau sumber ilmu. Apabila kita amati, anak SMA terkhusus untuk kelas XI dan kelas XII seharusnya sudah dapat diarahkan untuk berfikir tingkat tinggi. Nah, menurut teman-teman bagaimana saja persiapan yang dapat kita lakukan dari sekarang sebagai calon guru untuk dapat membentuk cara berpikir kritis pada peserta didik yang akan kita hadapi kedepan? Tolong kaitkan dengan materi kimia yang kiranya dapat membantu meningkatkan daya berpikir tingkat tinggi siswa.

Thursday, February 9, 2017


Berpikir Inovatif & Kreatif
sebagai
Mahasiswa Pendidikan Kimia



Image result for pembelajaran aktif



A. Inovatif
Pemikiran yang inovatif akan timbul apabila kita mengetahui inovasi sesungguhnya. Inovasi adalah proses pembaharuan/ pemanfaatan/ pengembangan dengan menciptakan hal baru yang berbeda dengan sebelumnya. Inovasi juga dapat diartikan penemuan baru dalam teknologi atau kemampuan dalam memperkenalkan temuan baru yang berbeda dari yang telah ada sebelumnya. Dalam pengertian inovasi, terdapat beberapa ahli yang mendefinisikan pengertian inovasi antara lain sebagai berikut :
·         Everet M. Rogers : Menurut Everet M. Rogers, pengertian inovasi adalah gagasan, ide, rencana, praktek atau benda yang diterima dan disadari sebagai hal yang baru dari seseorang atau kelompok untuk di implementasikan atau diadopsi. 
·         Stephen Robbins : Menurut Stephen Robbins, pengertian inovasi adalah gagasan atau ide baru yang diterapkan untuk memperbaiki suatu produk atau jasa 
·         Inovasi yang terjadi karena sengaja (invention): Inovasi invention adalah proses munculnya suatu hal baru dari kombinasi hal-hal lama yang telah ada. 
·         Inovasi yang terjadi tanpa sengaja  (discovery): Inovasi discovery adalah penemuan hal baru, baik berupa alat ataupun gagasan. Discovery dapat menjadi invention, ketika masyarakat mengakui dan dapat memanfaatkan hasil inovasi tersebut.

Dari pengertian inovasi yang terdapat diatas, sesuatu yang dapat dikatakan inovatif ketika memenuhi beberapa syarat, antara lain sebagai berikut :
·         Baru 
·         Berbeda dari sebelumnya atau yang telah ada
·         Memberikan manfaat bagi inovator dan orang lain

Terdapat 4 ciri-ciri inovasi antara lain sebagai berikut :
·         Memiliki ciri khusus
·         Memiliki unsur pembaharuan
·         Program inovasi melalui program yang terencana 
·         Memiliki tujuan

Contoh Inovasi dalam pembelajaran kimia :
Saat dulu, banyak guru masih melakukan proses belajar mengajar dengan metode ceramah atau bahkan ada beberapa guru yang hanya memberi tugas lalu meninggalkan kelas. Namun kini, seiring dengan perkembangan zaman, dimana sudah mulai timbul berbagai inovasi baru yaitu penggunaan media pembelajaran maupun multimedia pembelajaran, seperti Power Point, Prezi, Visual Laboratorium, flash dan sebagainya, itu akan sangat membantu pendidik dalam proses belajar mengajar dikelas. Ini juga didukung dengan adanya berbagai pelatihan untuk guru yang masih tabu dalam hal ini, sehingga pembelajaran seperti demikian tidak hanya dapat dilakukan oleh guru-guru baru, namun juga dapat diterapkan oleh guru-guru yang lebih lama.
Contohnya pada materi ikatan kimia yang dapat diilustrasikan dengan media pembelajaran flash sehingga yang pemahaman awalnya abstrak menjadi lebih jelas.

B. Kreatif
Kreatif adalah kemampuan mengembangkan/menciptakan ide dan cara baru yang berbeda dari sebelumnya. Sedangkan pengertian kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menciptakan hal baru, barik berupa gagasan, karya nyata, dalam bentuk aptitude atau non aptitude, kombinasi dari hal yang telah ada atau relatif berbeda dari yang telah ada sebelumnya. Kreativitas merupakan naluri yang ada sejak lahir namun, kreativitas tidak dapat berkembang dengan sendirinya, tetapi membutuhkan rangsangan dari lingkungannya. Dari pengertian kreativitas diatas, terdapat juga beberapa pendapat para ahli yang mendefinisikan pengertian kreativitas antara lain sebagai berikut :
·         Widayatum : Menurut Widayatum, pengertian kreativitas adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah, yang memberikan individu menciptakan ide-ide asli/adaptif fungsi kegunaan secara penuh untuk berkembang.  
·         Asep : Menurut Asep, pengertian kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk berpikir mencapai produk yang beragam dan baru, baik dalam bidang keilmuan, seni, sastra, dan bidang lainnya, dimana produk bisa diterima dan disukai oleh masyarakat sebagai sesuatu yang berguna
·         James R. Evans : Menurut James R. Evans, pengertian kreativitas adalah keterampilan untuk menentukan pertalian baru, melihat subjek perspektif baru, dan membentuk kombinasi-kombinasi baru dari dua konsep atau lebih konsep yang telah tercatat dalam pikiran. 
·         Santrock : Menurut Santrock, pengertian kreativitas adalah kemampuan untuk memikirkan tentang sesuatu dalam cara baru dan tidak biasanya serta untuk mendapatkan solusi-solusi yang unik. 
·         Yatin Rianto (2012: 233) : Menurut Yatin Rianto, pengertian kreativitas adalah sesuatu yang baru bagi diri sendiri dan tidak harus merupakan sesuatu yang baru bagi orang lain atau dunia pada umumnya,  
·         Semiawan (1987) : Menurut Semiawan, pengertian kreativitas adalah kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menetapkannya dalam pemecahan masalah. 
·         Harris : Menurut Harris, pengertian kreativitas adalah kemampuan, sikap dan proses menghasilkan ide-ide baru dengan mengombinasikan, mengubah, atau menerapkan kembali ide-ide yang telah ada.   
·         Utami Munandar (1995: 25) : Menurut utami munandar, pengertian kreativitas adalah suatu kemampuan umum untuk menciptakan suatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya
·         Imam Musbikin (2006: 6) : Menurut imam musbikin, pengertian kreativitas adalah kemampuan memulai ide, melihat hubungan baru, atau tak diduga sebelumnya, kemampuan memformulasikan konsep yang tak sekedar menghafal, menciptakan jawaban baru untuk soal-soal ada, dan mendapatkan pertanyaan baru yang perlu di  jawab. 
·         Woolfook (1984) : Menurut Woolfook, pengertian kreativitas adalah kemampuan individu untuk menghasilkan sesuatu (hasil) yang baru atau asli atau pemecahan masalah.  
·         Freedam (1982) : Menurut Freedam, pengertian kreativitas adalah sebagai kemampuan untuk memahami dunia, menginterpretasi pengalaman dan memecahkan masalah dengan cara yang baru dan asli. 
·         Selo Sumarjan : Menurut Selo Sumarjan, pengertian kreativitas adalah kemampuan yang efektif dalam menciptakan sesuatu yang baru, yang berbeda dalam bentuk susunan, gaya, tanpa atau dengan mengubah fungsi pokok dari sesuatu yang dibuat itu. 

Terdapat beberapa ciri-ciri kreativitas antara lain sebagai berikut :
·         Memiliki rasa ingin tahu yang luas dan mendalam
·         Memiliki daya imajinasi yang tinggi
·         Selalu memberikan gagasan atau usulan terhadap suatu masalah 
·         Melihat suatu masalah dalam berbagai sudut pandang
·         Orisinal dalam ungkapan gagasan dan dalam pemecahan masalah

Menurut Utami Munandar (2009:68-70) tes untuk mengukur kreativitas adalah sebagai berikut :
·         Tes kreativitas verbal : Konstruksi tes kreativitas verbal berdasarkan model struktur intelek dari guilford sebagai kerangka teoritis. Tes terdiri dari enam sib-tes yang semuanya mengukur operasi berfikir divergen
·         Tes kreativitas figuran (TKF) : Tes yang memungkinkan penyelesaian dalam waktu singkat dan dapat diberikan dalam kelompok. Tes ini mengukur aspek kelancaran, kelenturan, orisinalitas, dan elaborasi dari kemampuan berfikir kreatif. 
·         Skala sikap kreatif : skala sikap kreatif terdiri dari 32 butir pertanyaan yang disusun untuk siswa SD, dan SMP setiap pertanyaan dijawab "ya" atau "tidak". Tes dioperasikan dalam dimensi : keterbukaan dalam pengalaman baru, kelenturan dalam berfikir, kebebasan dalam ungkapan diri, menghargai fantasi, minat terhadap kegiatan kreatif, kepercayaan terhadap gagasan sendiri, dan kemampuan mandiri dalam memberi pertimbangan. 
·         Skala penilaian anak berbakat oleh guru :  Tes yang terdiri dari 4 sub skala yang mengukur intelektual umum, motivasi, kreativitas, dan kepemimpinan.

Contoh Kreatifitas dalam pembelajaran kimia :
Seiring dengan perkembangan zaman, model dan media pembelajaran juga berkembang. Disini tuntut kreatifitas seorang pendidik terkhusus guru kimia untuk lebih memvariasikan pembelajaran yang didukung oleh model dan media pembelajaran sekreatif mungkin sehingga dapat membangkitkan semangat peserta didik.

C. Berfikir Inovatif dan Kreatif
Dimana saat menciptakan sesuatu yang baru dengan penuh daya cipta yang diperoleh dari pemikiran dan keterampilan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang berbeda dari yang lain sehingga mempunyai keunggulan atau keunikan.

D. Perbedaan Inovasi dan Kreatif
·         Kreativitas adalah naluri sejak lahir
·         inovasi dapat muncul ketika diasah dan dikembangkan terus menerus 
·         Kreativitas adalah proses timbulnya ide-ide baru, sedangkan inovasi adalah melakukan/mengimplementasikan ide yang terdapat dalam kreativitas. 
·         Inovasi menjadikan ide tersebut mendapat nilai komersil. 

E. Persamaan Inovasi dan Kreatif
Persamaan inovasi dan kreatif adalah mengenai menciptakan ide-ide baru, gagasan baru, metode baru, cara baru dalam memecahkan masalah dan peluang yang berbeda dari sebelumnya. Orang yang melakukan inovasi disebut dengan inovator. Inovasi harus lah bermanfaat bagi sang inovator atau orang lain. Inovasi dibedakan menjadi dua macam antara lain sebagai berikut :

E. Sumber Inovasi & Kreatifitas
·        Mimpi
Suatu inovasi dan kreatifitas biasanya datang diikuti adanya keinginan dari dalam yang menjadi cita-cita yang belum tersamaikan dan terbawa dalam pikiran pada saat kita tidur.

·        Motivasi
Motivasi merupakan dorongan kuat dari dalam diri untuk berkembang. Timbul secara alamiah tanpa dibuat-buat ataupun direkayasa. Sehingga dapat mengarahkan prilaku individu atau kelompok agar menghasilkan output yang diharapkan sesuai tujuan yang ingin dicapai oleh individu tertentu/ suatu organisasi.
Motivasi dapat timbul dengan adanya kebutuhan dasar yaitu kebutuhan dasar seseorang dan kebutuhan lainnya.

ü Kebutuhan dasar dapat seperti makan, minum, sandang, papan dan pendidikan.
ü Kebutuhan lainnya seperti meningkatkan status diri di masyarakat ingin lebih dihargai dan dihormati orang lain (masyarakat).

F. Postur Layar Berkembang
1.     Tahap Belajar : 17 – 27 tahun
·        Lingkungan yang kondusif & mendukung untuk anda untuk berkembang
·        Tahap pelatihan dan pembinaan
·        Pendidikan informal/ pelatihan

2.     Tahap Kepemimpinan : 25 – 35 tahun
·        Dapat mengembangkan kemampuan memimpin
·        Senang mengatur/ memimpin orang lain

3.     Tahap Risiko : 36 – 45 tahun
·        Periode bertindak
·        Mencapai keadaan maksimal dari kemampuan
·        Pepatah :
Lebih baik mencoba tapi gagal ketimbang tidak mencoba

4.     Tahap Kejayaan : 46 – 55 tahun
·        Hitung reward dari unjuk karya sejauh ini
·        Belum bisa memperoleh reward yang dirasa pantas, maka jangan berharap banyak lagi

5.     Tahap Keamanan : > 56 tahun
·        Mempertajam keputusan
·        Membayar hutang pada diri sendiri



PERMASALAHAN
Seiring dengan berkembangnya teknologi yangmana cukup berefek pada perkembangan dalam dunia pendidikan, sudah banyak inovasi baru seperti media pembelajaran yang dapat menunjang kemudahan dalam proses belajar-mengajar. Namun ini terhambat dengan kurangnya pengetahuan terutama pada guru yang lama. Disisi lain, pemerintah sudah banyak melakukan upaya seperti mengadakan pelatihan-pelatihaan untuk guru. Tetapi hanya sedikit yang dapat menerapkan media pembelajaran ini. Menurut teman-teman, upaya apa yang dapat kita lakukan sebagai calon pendidik baru sehingga bisa mengajak guru-guru yang kurang aktif untuk lebih lebih menggunakan teknologi dalam pendidikan? Berikan contohnya.