Kamis, 23 Februari 2017
M I S K O N S E P S I

Wartono, dkk (2004:10) mengemukakan konsep adalah
gagasan atau abtraksi yang dibentuk untuk menyederhanakan lingkungan. Sedangkan
Euwe van den Berg (1991:8) mengemukakan konsep merupakan abstraksi dari
ciri-ciri sesuatu yang mempermudah komunikasi antara manusia dan yang
memungkinkan manusia berfikir. Konsep dibentuk dengan menggolongkan hasil-hasil
pengamatan dalam suatu kategori tertentu. Konsep disebut abstraksi karena
konsep menyatakan proses penggambaran pada berbagai pengalaman aktual.
Konsep tersusun sebagai penggambaran mental atas pengalaman yang teramati.Sebelum siswa mempelajari suatu konsep, siswa sudah memiliki konsepsi terhadap konsep yang akan dipelajari. Konsepsi tersebut terus berkembang dari pengalaman belajar mereka sehari-hari dalam memahami gejala atau fenomena alam, maupun dari pengalaman belajar mereka pada jenjang pendidikan sebelumnya (Mariawan, 2002).
Menurut Duit (1996),
konsepsi adalah representasi mental mengenai ciri-ciri dunia luar atau
domain-domain teoritik. Konsepsi merupakan perwujudan dari interpretasi
seseorang terhadap suatu obyek yang diamatinya yang sering bahkan selalu muncul
sebelum pembelajaran, sehingga sering diistilahkan konsepsi prapembelajaran.
Konsepsi prapembelajaran dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu
prakonsepsi (preconception) dan miskonsepsi (misconception). Prakonsepsi adalah
konsepsi yang berdasarkan pengalaman formal dalam kehidupan sehari-hari,
sedangkan miskonsepsi adalah salah pemahaman yang disebabkan oleh pembelajaran
sebelumnya dan kesalahan yang berkaitan dengan prakonsepsi pada umumnya.
Prakonsepsi ini bersumber dari pikiran siswa sendiri atas pemahamannya yang
masih terbatas pada alam sekitarnya atau sumber-sumber lain yang dianggapnya
lebih tahu akan tetapi tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Miskonsepsi atau salah
konsep merupakan konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau
pengertian yang diterima para ilmuwan pada bidang yang bersangkutan (Suparno,
2005). Novak (dalam Suparno, 2005) menyatakan bahwa prakonsepsi yang tidak
sesuai dengan konsepsi ilmiah disebut dengan miskonsepsi. Brown (dalam Suparno,
2005) memandang miskonsepsi sebagai suatu pandangan yang naif dan
mendefinisikan miskonsepsi sebagai suatu gagasan yang tidak sesuai dengan
konsepsi ilmiah.
Fowler (dalam Suparno,
2005) memandang miskonsepsi sebagai suatu pengertian yang tidak akurat terhadap
konsep, penggunaan konsep yang salah, klasifikasi contoh-contoh yang salah,
kekacauan konsep-konsep yang berbeda, dan hubungan konsep-konsep yang tidak
benar. Bentuk miskonsepsi dapat berupa kesalahan konsep, hubungan yang tidak
benar antar konsep, dan gagasan intuitif atau pandangan yang naif (Suparno,
2005).
Ø Sumber-sumber
Miskonsepsi
Suparno (2005)
menjelaskan ada lima faktor yang merupakan penyebab miskonsepsi pada siswa, yaitu
: 1) siswa, 2) guru, 3) buku teks, 4) konteks, dan 5) metode mengajar.
1)
Siswa
Miskonsepsi yang berasal dari siswa dapat dikelompokkan dalam 8
kategori, sebagai berikut.
a.
Prakonsepsi atau konsep awal siswa. Banyak siswa sudah
mempunyai konsep awal sebelum mereka mengikuti pelajaran di sekolah.
Prakonsepsi sering bersifat miskonsepsi karena penalaran seseorang terhadap
suatu fenomena berbeda-beda.
b.
Pemikiran asosiatif yaitu jenis pemikiran yang
mengasosiasikan atau menganggap suatu konsep selalu sama dengan konsep yang
lain. Asosiasi siswa terhadap istilah yang ditemukan dalam pembelajaran dan
kehidupan sehari-hari sering menimbulkan salah penafsiran.
c.
Pemikiran humanistik yaitu memandang semua benda dari
pandangan manusiawi. Tingkah laku benda dipahami sebagai tingkah laku makhluk
hidup, sehingga tidak cocok.
d.
Reasoning atau penalaran yang tidak lengkap atau salah.
Alasan yang tidak lengkap diperoleh dari informasi yang tidak lengkap pula.
Akibatnya siswa akan menarik kesimpulan yang salah dan menimbulkan miskonsepsi.
e.
Intuisi yang salah, yaitu suatu perasaan dalam diri seseorang
yang secara spontan mengungkapkan sikap atau gagasannya tentang sesuatu tanpa
penelitian secara obyektif dan rasional. Pola pikir intuitif sering dikenal dengan
pola pikir yang spontan.
f.
Tahap perkembangan kognitif siswa. Secara umum, siswa yang
dalam proses perkembangan kognitif akan sulit memahami konsep yang abstrak.
Dalam hal ini, siswa baru belajar pada hal-hal yang konkrit yang dapat dilihat
dengan indera.
g. Kemampuan siswa. Siswa
yang kurang mampu dalam mempelajari fisika akan menemukan kesulitan dalam
memahami konsep-konsep yang diajarkan. Secara umum, siswa yang tingkat
matematika-logisnya tinggi akan mengalami kesulitan memahami konsep fisika,
terlebih konsep yang abstrak.
h.
Minat belajar. Siswa yang memiliki minat belajar fisika yang
besar akan sedikit mengalami miskonsepsi dibandingkan siswa yang tidak
berminat.
2)
Guru
Guru yang tidak menguasai bahan atau tidak memahami konsep fisika dengan
benar juga merupakan salah satu penyebab miskonsepsi siswa. Guru terkadang
menyampaikan konsep fisika yang kompleks secara sederhana dengan tujuan untuk
mempermudah pemahaman siswa. Kadang-kadang guru mengutamakan penyampaian
rumusan matematis sedangkan penyampaian konsep fisisnya dikesampingkan. Pola
pengajaran guru masih terpaku pada papan tulis, jarang melakukan eksperimen dan
penyampaian masalah yang menantang proses berpikir siswa. Miskonsepsi siswa
akan semakin kuat apabila guru bersikap otoriter dan menerapkan metode ceramah
dalam mengajar. Hal ini mengakibatkan interaksi yang terjadi hanya satu arah,
sehingga semakin besar peluang miskonsepsi guru ditransfer langsung pada siswa.
3)
Buku Teks
Buku teks yang dapat mengakibatkan munculnya miskonsepsi siswa adalah
buku teks yang bahasanya sulit dimengerti dan penjelasannya tidak benar. Buku
teks yang terlalu sulit bagi level siswa yang sedang belajar dapat menumbuhkan
miskonsepsi karena mereka sulit menangkap isinya.
4) Konteks
Konteks yang dimaksud di sini adalah pengalaman, bahasa sehari-hari,
teman, serta keyakinan dan ajaran agama. Bahasa sebagai sumber prakonsepsi
pertama sangat potensial mempengaruhi miskonsepsi, karena bahasa mengandung
banyak penafsiran.
5)
Metode Mengajar
Metode mengajar guru yang tidak sesuai dengan konsep yang dipelajari
akan dapat menimbulkan miskonsepsi. Guru yang hanya menggunakan satu metode
pembelajaran untuk semua konsep akan memperbesar peluang siswa terjangkit
miskonsepsi. Metode ceramah yang tidak memberikan kesempatan siswa untuk
bertanya dan juga untuk mengungkapkan gagasannya sering kali meneruskan dan
memupuk miskonsepsi. Penggunaan analogi yang tidak tepat juga merupakan salah
satu penyebab timbulnya miskonsepsi. Metode praktikum yang sangat membantu
dalam proses pemahaman, juga dapat menimbulkan miskonsepsi karena siswa hanya
dapat menangkap konsep dari data-data yang diperoleh selama praktikum. Metode
diskusi juga dapat berperan dalam menciptakan miskonsepsi. Bila dalam diskusi
semua siswa mengalami miskonsepsi, maka miskonsepsi mereka semakin diperkuat.
Miskonsepsi merupakan
bagian dari pengetahuan yang dimiliki siswa dan bertentangan dengan pelajaran
berikutnya, sedemikian sehingga informasi yang baru tidak bisa terintegrasi
sewajarnya dan pemahaman siswa kurang serta miskonsepsi terhadap konsep baru
tak bisa diabaikan. Pengetahuan siswa yang miskonsepsi mendorong guru untuk
menemukan pertanyaan dan permasalahan yang bisa menciptakan ketidakpuasan ke
dalam diri siswa terhadap pandangan yang mereka miliki. Dengan demikian akan
memunculkan pengenalan gagasan ke arah situasi yang berlawanan. Ini mampu
memodifikasi siswa ke arah pandangan yang baru, yang akhirnya menuju ke
perubahan konseptual dan pemahaman konseptual (Kolari & Ranne, 2003).
Miskonsepsi terbentuk
secara alami dan tidak terelakkan bagian dari proses belajar. Miskonsepsi
sering di bawa siswa dari tingkat sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi.
Seperti yang terjadi di sekolah menengah, siswa miskonsepsi terkait konsep gaya
berat. Konsep massa, gaya berat, berat/beban, kelembaman massa dan massa
gravitasi juga merupakan konsep yang paling miskonsepsi di dalam ilmu fisika
oleh para siswa dari sekolah menengah ke universitas (Gonen, 2008). Miskonsepsi
bisa berasal dari hasil pengajaran guru yang hanya mengulangi buku catatan dan
tidak mengadakan percobaan dengan kuantitas pengamatan (Kwen BOO, 2006).
Penyampaian informasi
yang kurang jelas dan kurang lengkap yang diterima oleh siswa dalam proses
belajar juga diduga sebagai penyebab terjadinya miskonsepsi. Bahkan pemilihan
strategi pengajaran yang kurang tepat, misalnya penggunaan analogi yang kurang
tepat, dapat juga mengganggu proses berpikir siswa dan mendapat kesulitan dalam
memahami konsep-konsep fisika yang dipelajari.
Menurut Katu (dalam
Asma & Masril, 2002), untuk mendeteksi miskonsepsi dapat dilakukan sebagai
berikut.
1.
Memberi tes diagnostik pada awal perkuliahan atau pada setiap
akhir pembahasan. Bentuknya dapat berupa tes obyektif pilihan ganda atau bentuk
lain seperti menggambarkan diagram fisis atau vektoris, grafik, atau penjelasan
dengan kata-kata.
2.
Dengan memberikan tugas-tugas terstruktur misalnya tugas
mandiri atau kelompok sebagai tugas akhir pengajaran atau tugas pekerjaan
rumah.
3.
Dengan memberikan pertanyaan terbuka, pertanyaan terbalik
(reverse question) atau pertanyaan yang kaya konteks (context-rich problem).
4.
Dengan mengoreksi langkah-langkah yang digunakan siswa atau
mahasiswa dalam menyelesaikan soal-soal esai.
5.
Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka secara lisan
kepada siswa atau mahasiswa.
6.
Dengan mewawancarai misalnya dengan menggunakan kartu
pertanyaan.
PERMASALAHAN
Seperti yang kita ketahui, miskonsepsi terbentuk secara alami dan tidak
terelakkan dari proses belajar. Miskonsepsi yang terbentuk, apabila tidak segera
diluruskan, berdampak pada konsep siswa yang akan dibawanya dari tingkat
sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi. Menurut teman-teman sebagai calon
peserta didik, bagaimana cara kita untuk mengetahui adanya siswa yang
miskonsepsi dalam proses pembelajaran yang dilakukan? Dan bagaimana solusi
untuk menghindari hal tersebut?
Banyak cara untuk menentukan, mengidentifikasi dan mendeteksi terjadinya miskonsepsi peserta didik pada saat pembelajaran kimia. Salah satunya adalah tes diagnostik. Tes diagnostik ini digunakan untuk menentukan bagian tertentu pada suatu mata pelajaran yang memiliki kelemahan dan menyediakan alat untuk menemukan penyebab kekurangan tersebut. Tes diagnostik juga dapat digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan siswa dalam belajar..
ReplyDeleteAda banyak cara untuk membantu siswa mengatasi miskonsepsi. Secara garis besar langkah yang digunakan untuk membantu mengatasi miskonsepsi yang pertama adalah Mencari atau mengungkap miskonsepsi yang dilakukan siswa. Paul Suparno (2005:56) menjelaskan bahwa untuk dapat memahami gagasan siswa beberapa hal dapat dilakukan antara lain: Siswa dibebaskan mengungkapkan gagasan dan pemikirannya mengenai bahan yang sedang dibicarakan. Hal ini dapat dilakukan secara lisan atau tertulis Guru memberi pertanyaan kepada siswa tentang konsep yang biasanya membuat siswa bingung dan siswa diminta menjawab sejara jujur. Guru mengajak siswa untuk berdiskusi tentang bahan tertentu yang biasanya mengandung miskonsepsi, dan guru membiarkan siswa berdiskusi dengan bebas. yang kedua Mencoba menemukan penyebab miskonsepsi tersebut Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengetahui sebab miskonsepsi, antara lain: Guru melakukan wawancara pribadi ataupun umum di depan kelas Memberikan pertanyaan tertulis yang diberikan kepada siswa. Sangat baik bila disatukan dengan miskonsepsi siswa. yang ketiga Mencari perlakuan yang sesuai untuk mengatasi. Metode mengajar yang dilakukan untuk meminimalisasi miskonsepsi haruslah sesuai dengan kebutuhan siswa, efektivitas metode tersebut. Hal ini tentunya diperlukan kejelian pendidik memilih metode yang cocok untuk materi tertentu.
ReplyDeleteBaiklah putri, jadi secara garis besar langkah yang digunakan untuk membantu mengatasi miskonsepsi yang pertama adalah Mencari atau mengungkap miskonsepsi yang dilakukan siswa. Paul Suparno (2005:56) menjelaskan bahwa untuk dapat memahami gagasan siswa beberapa hal dapat dilakukan antara lain: Siswa dibebaskan mengungkapkan gagasan dan pemikirannya mengenai bahan yang sedang dibicarakan. Hal ini dapat dilakukan secara lisan atau tertulis Guru memberi pertanyaan kepada siswa tentang konsep yang biasanya membuat siswa bingung dan siswa diminta menjawab sejara jujur. Guru mengajak siswa untuk berdiskusi tentang bahan tertentu yang biasanya mengandung miskonsepsi, dan guru membiarkan siswa berdiskusi dengan bebas. yang kedua Mencoba menemukan penyebab miskonsepsi tersebut Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengetahui sebab miskonsepsi, antara lain: Guru melakukan wawancara pribadi ataupun umum di depan kelas Memberikan pertanyaan tertulis yang diberikan kepada siswa. Sangat baik bila disatukan dengan miskonsepsi siswa. yang ketiga Mencari perlakuan yang sesuai untuk mengatasi. Metode mengajar yang dilakukan untuk meminimalisasi miskonsepsi haruslah sesuai dengan kebutuhan siswa, efektivitas metode tersebut. Hal ini tentunya diperlukan kejelian pendidik memilih metode yang cocok untuk materi tertentu.
DeleteAda banyak cara untuk membantu siswa mengatasi miskonsepsi
ReplyDeletea. Mencari atau mengungkap miskonsepsi yang dilakukan siswa.
Paul Suparno (2005:56) menjelaskan bahwa untuk dapat memahami gagasan siswa beberapa hal dapat dilakukan antara lain:
Siswa dibebaskan mengungkapkan gagasan dan pemikirannya mengenai bahan yang sedang dibicarakan. Hal ini dapat dilakukan secara lisan atau tertulis Guru memberi pertanyaan kepada siswa tentang konsep yang biasanya membuat siswa bingung dan siswa diminta menjawab sejara jujur. Guru mengajak siswa untuk berdiskusi tentang bahan tertentu yang biasanya mengandung miskonsepsi, dan guru membiarkan siswa berdiskusi dengan bebas.
b. Mencoba menemukan penyebab miskonsepsi tersebut Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengetahui sebab miskonsepsi, antara lain: Guru melakukan wawancara pribadi ataupun umum di depan kelas Memberikan pertanyaan tertulis yang diberikan kepada siswa. Sangat baik bila disatukan dengan miskonsepsi siswa
c. Mencari perlakuan yang sesuai untuk mengatasi.
Metode mengajar yang dilakukan untuk meminimalisasi miskonsepsi haruslah sesuai dengan kebutuhan siswa, efektivitas metode tersebut. Hal ini tentunya diperlukan kejelian pendidik memilih metode yang cocok untuk materi tertentu.
menurut saya ada beberapa cara yang dapt dilakukan oleh guru diantaranya dengan melakukan tes tertulis mau pun lisan terhadapat siswanya, dari hasil tersebut guru dapat mengetahui dan menganalisis apakah terjadi miskonsepsi pada siswanya
ReplyDeleteBaiklah, jadi dapat dg melakukan tes tertulis mau pun lisan terhadapat siswanya, dari hasil tersebut guru dapat mengetahui dan menganalisis apakah terjadi miskonsepsi pada siswanya. Terimakasi saya mengerti
Delete