Wednesday, February 22, 2017

Kamis, 23 Februari 2017

Higher – Order Thinking in Chemistry
Teaching and Learning

Berpikir Tingkat Tinggi pada
Belajar dan Pembelajaran Kimia


Image result for berpikir


A.  KETERAMPILAN BERPIKIR

Keterampilan berpikir merupakan suatu proses kognitif yang digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu contoh keterampilan berpikir adalah proses menarik kesimpulan dimana kemampuan yang ditunjukan adalah menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan.

B.  BERPIKIR TINGKAT TINGGI
Apa yang dimaksud dengan berpikir tingkat tinggi? roses berpikir tingkat tinggi dapat terjadi ketika seseorang dapat memanfaatkan pengetahuan dan informasi baru dan informasi yang tersimpan dalam memori (seperti pengalaman) dan saling terhubungkan atau menata kembali dan memperluas informasi ini untuk mencapai tujuan  atau menemukan jawaban dalam situasi membingungkan yang dihadapi. Berpikir tingkat tinggi dapat kita kaitan dengan Taksonomi Bloom, terdapat tiga aspek dalam ranah kognitif yang menjadi bagian dari kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking. Ketiga aspek itu adalah aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta. Sedang tiga aspek lain dalam ranah yang sama, yaitu aspek mengingat, aspek memahami, dan aspek aplikasi, masuk dalam bagian intilektual berpikir tingkat rendah atau lower order thinking.
C.  KARAKTERISTIK DARI BERPIKIR TINGKAT TINGGI

Ø Dapat Memberi Lebih dari Satu Alternatif Kemungkinan
Seseorang dapat dikatakan berpikir tingkat tinggi apabila memiliki lebih dari satu alternatif solusi dalam menghadapi suatu permasalahan, terlepas dari benar salahnya alternative tersebut.

Contoh : Concept Map



Ø Dapat Menyelesaikan atau Menghasilkan Tantangan yang Lebih Kompleks
Seseorang dapat dikatakan berpikir tingkat tinggi apabila dapat menyelesaikan suatu tantangan atau permasalahan yang pada umumnya tidak dapat diselesaikan orang banyak.

Ø Terdapat Unsur Logis
Seseorang dapat dikatakan berpikir tingkat tinggi apabila terkandung unsur logis didalamnya. Pernyataannya dapat diterima dan dimengerti orang lain. Selain itu, ia juga dapat membuat suatu informasi yang bermakna denngan menghubungkan informasi dan pengetahuan yang telah ada dengan pengetahuan yang baru.

Ø Dapat Menghubungkan Sesuatu yang Tidak Ada (Jauh) Hubungannya
Seseorang dapat dikatakan berPikir tingkat tinggi apabila dapat menghubungkan sesuatu yang apabila dari sudut pandang orang awam tidak ada hubungannya. Disini ia memiliki tingkat berPikir diatas rata-rata berpikirnya orang secara umum.

D. JENIS/ KATEGORI BERPIKIR TINGKAT TINGGI

v Berpikir Kreatif
Berpikir kreatif adalah menggunakan kemampuan berpikir kita untuk membuat hubungan yang baru & hubungan yang lebih berguna dari informasi yang sebelumnya sudah kita ketahui. Berfikir kreatif diharapkan mampu menghasilkan solusi/ gagasan baru (multisolution). Biasannya permasalahan yang terdengan beresiko dapat diselesaikan oleh orang yang berfikir kreatif. Terdapat insur estetik/ seni dalam pemahamannya. Jadi berpikir kreatif tidak selalu menghasilkan sesuatu yang betul-betul baru melainkan bisa menghubungkan hal-hal yang sudah kita ketahui menjadi pengertian yang lebih sempurna.

v Berpikir Kritis
Berpikir kristis merupakan kemampuan seseorang untuk berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Orang yang memiliki kemampuan untuk berpikir secara kritis biasanya tidak langsung menerima sesuatu yang dianggap baru bagi dirinya. Mereka akan lebih mempelajari secara mendalam tentang kebenaran sesuatu tersebut, dan bisasnya seseorang yang memiliki kemampuan untuk berpikir kritis akan memiliki tingkat kecerdasan yang baik.

v Metakognisi
Metakognitif adalah kemampuan untuk mengontrol ranah atau aspek kognitif. Metakognitif mengendalikan enam tingkatan aspek kognitif yang didefinisikan oleh Benjamin Bloom dalam taksonomi Bloom yang terdiri dari tahap ingatan, pemahaman, terapan, analisis dan sintetis dan evaluasi. Biasanya orang yang berfikir metakognitif akan mencoba menguji pemahaman yang sudah ada sendiri.

E.   MELATIH SISWA UNTUK BERFIKIR TINGKAT TINGGI
Bagaimana Melatih Siswa Berpikir Tingkat Tinggi?
Di Indonesia, proses pembelajaran yang melatih siswa berpikir tingkat tinggi memiliki beberapa kendala. Salah satunya adalah terlalu dominannya peran guru di sekolah sebagai penyebar ilmu atau sumber ilmu (teacher center) belum student center; dan fokus pendidikan di sekolah lebih pada yang bersifat menghafal/pengetahuan faktual. Siswa hanya dianggap sebagai sebuah wadah yang akan diisi dengan ilmu oleh guru. Kendala lain yang sebenarnya sudah cukup klasik namun memang sulit dipecahkan, adalah sistem penilaian prestasi siswa yang lebih banyak didasarkan melalui tes-tes yang sifatnya menguji kemampuan kognitif tingkat rendah. Siswa yang dicap sebagai siswa yang pintar atau sukses adalah siswa yang lulus ujian. Ini merupakan masalah lama yang sampai sekarang masih merupakan polemik yang cukup seru bagi dunia pendidikan di Indonesia.
Diperlukan Higher Order Questions (rich questions), pertanyaan yang meminta siswa untuk menyimpulkan, hypothesise, menganalisis, menerapkan, mensintesis, mengevaluasi, membandingkan, kontras atau membayangkan,  menunjukkan jawaban tingkat tinggi. Untuk menjawab Higher Order Questions (rich questions) diperlukan penalaran tingkat tinggi yaitu cara berpikir logis yang tinggi, berpikir logis yang tinggi sangat diperlukan siswa dalam proses pembelajaran di kelas khususnya dalam menjawab pertanyaan, karena siswa perlu menggunakan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang dimilikinya dan menghubungkannya ke dalam situasi baru.
Soal-soal ulangan yang dibuat oleh guru perlu memperhatikan beberapa hal:
  • Soal hendaknya menggunakan stimulus, stimulus yang baik hendaknya menyajikan informasi yang jelas, padat, mengandung konsep/gagasan inti permasalahan, dan benar secara fakta.
  • Soal yang dikembangkan harus sesuai dengan kondisi pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas maupun di luar kelas yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari
  • Soal mengukur keterampilan berpikir kritis
  • Soal mengukur keterampilan pemecahan masalah. 
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang sudah mulai diterapkan di Indonesia sebenarnya cukup kondusif bagi pengembangan pembelajaran keterampilan berpikir, karena mensyaratkan siswa sebagai pusat belajar. Namun demikian, bentuk penilaian yang dilakukan terhadap kinerja siswa masih cenderung mengikuti pola lama, yaitu model soal-soal pilihan ganda yang lebih banyak memerlukan kemampuan siswa untuk menghafal. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penbelajaran keterampilan berpikir di sekolah antara lain adalah sebagai berikut:
  • Keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa
  • Keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pembelajaran suatu bidang studi
  • Pada kenyataannya siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini, sehingga perlu adanya latihan terbimbing
  • Pembelajaran keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat kepada siswa (student-centered). 
Selain beberapa prinsip di atas, satu hal yang tidak kalah pentingnya dalam melatih keterampilan berpikir adalah perlunya latihan-latihan yang intensif. Seperti halnya keterampilan yang lain, dalam keterampilan berpikir siswa perlu mengulang untuk melatihnya walaupun sebenarnya keterampilan ini sudah menjadi bagian dari cara berpikirnya. Latihan rutin yang dilakukan siswa akan berdampak pada efisiensi dan otomatisasi keterampilan berpikir yang telah dimiliki siswa. Dalam proses pembelajaran di kelas, guru harus selalu menambahkan keterampilan berpikir yang baru dan mengaplikasikannya dalam pelajaran lain sehingga jumlah atau macam keterampilan berpikir siswa bertambah banyak.
Hasil penelitian Computer Tchnology Research (CTR) menunjukkan bahwa seseorang hanya dapat mengingat apa yang dilihatnya sebesar 20%, 30% dari yang didengarnya, 50% dari yang didengar dan dilihatnya, dan 80% dari yang didengar, dilihat dan dikerjakannya secara simultan. Selain itu Levie dan Levie dalam Azhar Arzad (2009: 9) yang membaca kembali hasil-hasil penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar dan stimulus kata atau visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep. Sedangkan stimulus verbal memberikan hasil belajar yang lebih baik apabila pembelajaran itu melibatkan ingatan yang berurut-urutan (sekuensial). Dalam dunia pendidikan ada 3 model seorang siswa dalam menerima suatu pelajaran;
1. I hear and i forget ( Saya mendengar dan saya akan lupa )
2. I see and i remember ( Saya meihat dan saya akan ingat )
3. I do and i understand ( Saya melakukan dan saya akan mengerti )
Jika pengajaran keterampilan berpikir kepada siswa belum sampai pada tahap siswa dapat mengerti dan belajar menggunakannya, maka keterampilan berpikir tidak akan banyak bermanfaat.
Ada 3 tipe seorang guru dalam mengajar;
1.    Guru biasa, yaitu yang selalu menjelaskan
2.    Guru baik, yaitu yang mampu mendemonstrasikan dan
3.    Guru hebat, adalah guru yang mampu menginspirasikan, yakni guru yang mampu membawa siswanya untuk berpikir tingkat tinggi.
Pelajaran yang diajarkan dengan cara mengajak siswa untuk berpikir tingkat tinggi akan lebih cepat dimengerti oleh siswa. Jadi untuk keberhasilan penguasaan suatu materi pelajaran atau yang lain, usahakan dalam proses belajarnya selalu menggunakan cara-cara yang membuat siswa untuk selalu berpikir tingkat tinggi.

PERMASALAHAN

Di Indonesia, kita ketahui masih sulit untuk menemukan siswa yang dapat berpikit tingkat tinggi. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal ini adalah masih terlalu dominannya peran guru di sekolah sebagai penyebar ilmu atau sumber ilmu. Apabila kita amati, anak SMA terkhusus untuk kelas XI dan kelas XII seharusnya sudah dapat diarahkan untuk berfikir tingkat tinggi. Nah, menurut teman-teman bagaimana saja persiapan yang dapat kita lakukan dari sekarang sebagai calon guru untuk dapat membentuk cara berpikir kritis pada peserta didik yang akan kita hadapi kedepan? Tolong kaitkan dengan materi kimia yang kiranya dapat membantu meningkatkan daya berpikir tingkat tinggi siswa.

6 comments:

  1. salah satu hal yang bisa dilakukan yaitu memberikan contoh penerapan materi kimia dalam kehidupan sehari-hari yang tanpa mereka sadari sebelumnya. contohnya pada materi reaksi redoks, seorang guru bisa membawa apel atau terong pada saat pembelajaran dikelas, kemudian di kupas dan dibiarkan selama beberapa metit, sampai apel atau terong tersebut berubah warna menjadi kecoklatan. lantas guru menanyakan mengapa hal tersebut bisa terjadi, apa penyebabnya, dan apa yang harus kita lakukan untuk kmencegah proses tersebut terjadi. jadi intinya guru sering memberi pertanyaan yang memancing siswa untuk berpikir atau membuat siswa penasaran...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baiklah laili, jadi yang bisa dilakukan yaitu memberikan contoh penerapan materi kimia dalam kehidupan sehari-hari yang tanpa mereka sadari sebelumnya. contohnya pada materi reaksi redoks, seorang guru bisa membawa apel atau terong pada saat pembelajaran dikelas, kemudian di kupas dan dibiarkan selama beberapa metit, sampai apel atau terong tersebut berubah warna menjadi kecoklatan. lantas guru menanyakan mengapa hal tersebut bisa terjadi, apa penyebabnya, dan apa yang harus kita lakukan untuk kmencegah proses tersebut terjadi. jadi intinya guru sering memberi pertanyaan yang memancing siswa untuk berpikir atau membuat siswa penasaran, terimakasih saya mengerti

      Delete
  2. sebagai calon guru hal yang yang dilakukan untuk membentuk cara berpikir kritis siswa misalnya dengan selalu memberi pertanyaan dan memberi respon,selain itu kita bisa juga mengaitkan atau menghubungkan konten yang relevan dengan yang tidak. nah dari situ peserta didik akan mulai berpikir untuk memahami dan menganalisis apa yang dimaksud guru tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baiklah kak titi, jadi salah satu caranya misalnya dengan selalu memberi pertanyaan dan memberi respon,selain itu kita bisa juga mengaitkan atau menghubungkan konten yang relevan dengan yang tidak. nah dari situ peserta didik akan mulai berpikir untuk memahami dan menganalisis apa yang dimaksud guru tersebut. Baiklah saya mengerti terimakasih

      Delete
  3. menurut saya cara yang dapat dilakukan yaitu dengan memberi pemahaman pentingnya mempunyai kemampuan untuk berpikir kristis denagn kemudian seringnya melatih siswa untuk melakukan hal tersebut salah satu caranya dengan menarik perhatian siswa melalui suatu permasalahan atau fenomena yang aneh namun sering terjadi, dari sanalah siswa dapat mengembangkan pola pikirnya untuk dapat berlatih dapat berlatih berpikir kritis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baiklah saudari fira, jadiyang dapat dilakukan yaitu dengan memberi pemahaman pentingnya mempunyai kemampuan untuk berpikir kristis denagn kemudian seringnya melatih siswa untuk melakukan hal tersebut salah satu caranya dengan menarik perhatian siswa melalui suatu permasalahan atau fenomena yang aneh namun sering terjadi, dari sanalah siswa dapat mengembangkan pola pikirnya untuk dapat berlatih dapat berlatih berpikir kritis. Terimakasih saya mengerti

      Delete