Kamis, 23 Februari 2017
Higher – Order Thinking in
Chemistry
Teaching and Learning
Berpikir Tingkat Tinggi
pada
Belajar dan Pembelajaran
Kimia

A.
KETERAMPILAN BERPIKIR
Keterampilan berpikir merupakan
suatu proses kognitif yang digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu contoh
keterampilan berpikir adalah proses menarik kesimpulan dimana kemampuan yang
ditunjukan adalah menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau
informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi
hasil akhir yang terumuskan.
B.
BERPIKIR TINGKAT TINGGI
Apa yang dimaksud dengan berpikir tingkat tinggi? roses
berpikir tingkat tinggi dapat terjadi ketika seseorang dapat memanfaatkan
pengetahuan dan informasi baru dan informasi yang tersimpan dalam memori (seperti
pengalaman) dan saling terhubungkan atau menata kembali dan memperluas
informasi ini untuk mencapai tujuan atau menemukan jawaban dalam situasi
membingungkan yang dihadapi. Berpikir tingkat tinggi dapat kita kaitan dengan
Taksonomi Bloom, terdapat tiga aspek dalam ranah kognitif yang menjadi bagian
dari kemampuan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking. Ketiga aspek
itu adalah aspek analisa, aspek evaluasi dan aspek mencipta. Sedang tiga aspek
lain dalam ranah yang sama, yaitu aspek mengingat, aspek memahami, dan aspek
aplikasi, masuk dalam bagian intilektual berpikir tingkat rendah atau lower order
thinking.
C. KARAKTERISTIK DARI BERPIKIR
TINGKAT TINGGI
Ø Dapat Memberi Lebih dari Satu
Alternatif Kemungkinan
Seseorang
dapat dikatakan berpikir tingkat tinggi apabila memiliki lebih dari satu alternatif
solusi dalam menghadapi suatu permasalahan, terlepas dari benar salahnya alternative
tersebut.
Seseorang
dapat dikatakan berpikir tingkat tinggi apabila dapat menyelesaikan suatu
tantangan atau permasalahan yang pada umumnya tidak dapat diselesaikan orang
banyak.
Ø Terdapat Unsur Logis
Seseorang
dapat dikatakan berpikir tingkat tinggi apabila terkandung unsur logis
didalamnya. Pernyataannya dapat diterima dan dimengerti orang lain. Selain itu,
ia juga dapat membuat suatu informasi yang bermakna denngan menghubungkan
informasi dan pengetahuan yang telah ada dengan pengetahuan yang baru.
Ø Dapat Menghubungkan Sesuatu
yang Tidak Ada (Jauh) Hubungannya
Seseorang
dapat dikatakan berPikir tingkat tinggi apabila dapat menghubungkan sesuatu
yang apabila dari sudut pandang orang awam tidak ada hubungannya. Disini ia
memiliki tingkat berPikir diatas rata-rata berpikirnya orang secara umum.
D. JENIS/ KATEGORI BERPIKIR
TINGKAT TINGGI
v Berpikir Kreatif
Berpikir kreatif
adalah menggunakan kemampuan berpikir kita untuk membuat hubungan yang baru
& hubungan yang lebih berguna dari informasi yang sebelumnya sudah kita
ketahui. Berfikir kreatif diharapkan mampu menghasilkan solusi/ gagasan baru
(multisolution). Biasannya permasalahan yang terdengan beresiko dapat
diselesaikan oleh orang yang berfikir kreatif. Terdapat insur estetik/ seni
dalam pemahamannya. Jadi berpikir kreatif tidak selalu menghasilkan sesuatu
yang betul-betul baru melainkan bisa menghubungkan hal-hal yang sudah kita
ketahui menjadi pengertian yang lebih sempurna.
v Berpikir Kritis
Berpikir kristis merupakan kemampuan
seseorang untuk berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan
pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Orang
yang memiliki kemampuan untuk berpikir secara kritis biasanya tidak langsung
menerima sesuatu yang dianggap baru bagi dirinya. Mereka akan lebih mempelajari
secara mendalam tentang kebenaran sesuatu tersebut, dan bisasnya seseorang yang
memiliki kemampuan untuk berpikir kritis akan memiliki tingkat kecerdasan yang
baik.
v Metakognisi
Metakognitif adalah
kemampuan untuk mengontrol ranah atau aspek kognitif. Metakognitif
mengendalikan enam tingkatan aspek kognitif yang didefinisikan oleh Benjamin
Bloom dalam taksonomi Bloom yang terdiri dari tahap ingatan, pemahaman,
terapan, analisis dan sintetis dan evaluasi. Biasanya orang yang
berfikir metakognitif akan mencoba menguji pemahaman yang sudah ada sendiri.
E. MELATIH SISWA UNTUK BERFIKIR
TINGKAT TINGGI
Bagaimana Melatih Siswa
Berpikir Tingkat Tinggi?
Di Indonesia, proses pembelajaran yang melatih siswa
berpikir tingkat tinggi memiliki beberapa kendala. Salah satunya adalah terlalu
dominannya peran guru di sekolah sebagai penyebar ilmu atau sumber ilmu
(teacher center) belum student center; dan fokus pendidikan di sekolah lebih
pada yang bersifat menghafal/pengetahuan faktual. Siswa hanya dianggap sebagai
sebuah wadah yang akan diisi dengan ilmu oleh guru. Kendala lain yang
sebenarnya sudah cukup klasik namun memang sulit dipecahkan, adalah sistem
penilaian prestasi siswa yang lebih banyak didasarkan melalui tes-tes yang
sifatnya menguji kemampuan kognitif tingkat rendah. Siswa yang dicap sebagai
siswa yang pintar atau sukses adalah siswa yang lulus ujian. Ini merupakan
masalah lama yang sampai sekarang masih merupakan polemik yang cukup seru bagi
dunia pendidikan di Indonesia.
Diperlukan Higher Order Questions (rich questions), pertanyaan
yang meminta siswa untuk menyimpulkan, hypothesise, menganalisis, menerapkan,
mensintesis, mengevaluasi, membandingkan, kontras atau membayangkan,
menunjukkan jawaban tingkat tinggi. Untuk menjawab Higher Order Questions (rich
questions) diperlukan penalaran tingkat tinggi yaitu cara berpikir logis yang
tinggi, berpikir logis yang tinggi sangat diperlukan siswa dalam proses
pembelajaran di kelas khususnya dalam menjawab pertanyaan, karena siswa perlu
menggunakan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan yang dimilikinya dan
menghubungkannya ke dalam situasi baru.
Soal-soal ulangan yang dibuat oleh guru perlu
memperhatikan beberapa hal:
- Soal
hendaknya menggunakan stimulus, stimulus yang baik hendaknya menyajikan
informasi yang jelas, padat, mengandung konsep/gagasan inti permasalahan,
dan benar secara fakta.
- Soal
yang dikembangkan harus sesuai dengan kondisi pembelajaran yang
dilaksanakan di dalam kelas maupun di luar kelas yang berhubungan dengan
kehidupan sehari-hari
- Soal
mengukur keterampilan berpikir kritis
- Soal
mengukur keterampilan pemecahan masalah.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang sudah mulai
diterapkan di Indonesia sebenarnya cukup kondusif bagi pengembangan
pembelajaran keterampilan berpikir, karena mensyaratkan siswa sebagai pusat
belajar. Namun demikian, bentuk penilaian yang dilakukan terhadap kinerja siswa
masih cenderung mengikuti pola lama, yaitu model soal-soal pilihan ganda yang
lebih banyak memerlukan kemampuan siswa untuk menghafal. Prinsip-prinsip yang
harus diperhatikan dalam penbelajaran keterampilan berpikir di sekolah antara
lain adalah sebagai berikut:
- Keterampilan
berpikir tidak otomatis dimiliki siswa
- Keterampilan
berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pembelajaran suatu bidang
studi
- Pada
kenyataannya siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir
ini, sehingga perlu adanya latihan terbimbing
- Pembelajaran
keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat kepada
siswa (student-centered).
Selain beberapa prinsip di atas, satu hal yang tidak
kalah pentingnya dalam melatih keterampilan berpikir adalah perlunya
latihan-latihan yang intensif. Seperti halnya keterampilan yang lain, dalam
keterampilan berpikir siswa perlu mengulang untuk melatihnya walaupun
sebenarnya keterampilan ini sudah menjadi bagian dari cara berpikirnya. Latihan
rutin yang dilakukan siswa akan berdampak pada efisiensi dan otomatisasi
keterampilan berpikir yang telah dimiliki siswa. Dalam proses pembelajaran di
kelas, guru harus selalu menambahkan keterampilan berpikir yang baru dan
mengaplikasikannya dalam pelajaran lain sehingga jumlah atau macam keterampilan
berpikir siswa bertambah banyak.
Hasil penelitian Computer Tchnology Research (CTR)
menunjukkan bahwa seseorang hanya dapat mengingat apa yang dilihatnya sebesar
20%, 30% dari yang didengarnya, 50% dari yang didengar dan dilihatnya, dan 80%
dari yang didengar, dilihat dan dikerjakannya secara simultan. Selain itu Levie
dan Levie dalam Azhar Arzad (2009: 9) yang membaca kembali hasil-hasil
penelitian tentang belajar melalui stimulus gambar dan stimulus kata atau
visual dan verbal menyimpulkan bahwa stimulus visual membuahkan hasil belajar
yang lebih baik untuk tugas-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat
kembali, dan menghubung-hubungkan fakta dan konsep. Sedangkan stimulus verbal
memberikan hasil belajar yang lebih baik apabila pembelajaran itu melibatkan
ingatan yang berurut-urutan (sekuensial). Dalam dunia pendidikan ada 3 model
seorang siswa dalam menerima suatu pelajaran;
1. I hear and i forget
( Saya mendengar dan saya akan lupa )
2. I see and i remember
( Saya meihat dan saya akan ingat )
3. I do and i
understand ( Saya melakukan dan saya akan mengerti )
Jika pengajaran keterampilan berpikir kepada siswa belum
sampai pada tahap siswa dapat mengerti dan belajar menggunakannya, maka
keterampilan berpikir tidak akan banyak bermanfaat.
Ada 3 tipe seorang guru
dalam mengajar;
1. Guru biasa, yaitu yang
selalu menjelaskan
2. Guru baik, yaitu yang
mampu mendemonstrasikan dan
3. Guru hebat, adalah guru
yang mampu menginspirasikan, yakni guru yang mampu membawa siswanya untuk
berpikir tingkat tinggi.
Pelajaran yang diajarkan dengan cara mengajak siswa
untuk berpikir tingkat tinggi akan lebih cepat dimengerti oleh siswa. Jadi
untuk keberhasilan penguasaan suatu materi pelajaran atau yang lain, usahakan
dalam proses belajarnya selalu menggunakan cara-cara yang membuat siswa untuk
selalu berpikir tingkat tinggi.
PERMASALAHAN
Di Indonesia, kita ketahui masih sulit untuk
menemukan siswa yang dapat berpikit tingkat tinggi. Salah satu faktor yang
mempengaruhi hal ini adalah masih terlalu dominannya peran guru di
sekolah sebagai penyebar ilmu atau sumber ilmu. Apabila kita amati, anak SMA
terkhusus untuk kelas XI dan kelas XII seharusnya sudah dapat diarahkan untuk
berfikir tingkat tinggi. Nah, menurut teman-teman bagaimana saja persiapan yang dapat kita lakukan dari sekarang sebagai calon
guru untuk dapat membentuk cara berpikir kritis pada peserta didik yang akan
kita hadapi kedepan? Tolong kaitkan dengan materi kimia yang kiranya dapat membantu meningkatkan daya berpikir tingkat tinggi siswa.

salah satu hal yang bisa dilakukan yaitu memberikan contoh penerapan materi kimia dalam kehidupan sehari-hari yang tanpa mereka sadari sebelumnya. contohnya pada materi reaksi redoks, seorang guru bisa membawa apel atau terong pada saat pembelajaran dikelas, kemudian di kupas dan dibiarkan selama beberapa metit, sampai apel atau terong tersebut berubah warna menjadi kecoklatan. lantas guru menanyakan mengapa hal tersebut bisa terjadi, apa penyebabnya, dan apa yang harus kita lakukan untuk kmencegah proses tersebut terjadi. jadi intinya guru sering memberi pertanyaan yang memancing siswa untuk berpikir atau membuat siswa penasaran...
ReplyDeleteBaiklah laili, jadi yang bisa dilakukan yaitu memberikan contoh penerapan materi kimia dalam kehidupan sehari-hari yang tanpa mereka sadari sebelumnya. contohnya pada materi reaksi redoks, seorang guru bisa membawa apel atau terong pada saat pembelajaran dikelas, kemudian di kupas dan dibiarkan selama beberapa metit, sampai apel atau terong tersebut berubah warna menjadi kecoklatan. lantas guru menanyakan mengapa hal tersebut bisa terjadi, apa penyebabnya, dan apa yang harus kita lakukan untuk kmencegah proses tersebut terjadi. jadi intinya guru sering memberi pertanyaan yang memancing siswa untuk berpikir atau membuat siswa penasaran, terimakasih saya mengerti
Deletesebagai calon guru hal yang yang dilakukan untuk membentuk cara berpikir kritis siswa misalnya dengan selalu memberi pertanyaan dan memberi respon,selain itu kita bisa juga mengaitkan atau menghubungkan konten yang relevan dengan yang tidak. nah dari situ peserta didik akan mulai berpikir untuk memahami dan menganalisis apa yang dimaksud guru tersebut.
ReplyDeleteBaiklah kak titi, jadi salah satu caranya misalnya dengan selalu memberi pertanyaan dan memberi respon,selain itu kita bisa juga mengaitkan atau menghubungkan konten yang relevan dengan yang tidak. nah dari situ peserta didik akan mulai berpikir untuk memahami dan menganalisis apa yang dimaksud guru tersebut. Baiklah saya mengerti terimakasih
Deletemenurut saya cara yang dapat dilakukan yaitu dengan memberi pemahaman pentingnya mempunyai kemampuan untuk berpikir kristis denagn kemudian seringnya melatih siswa untuk melakukan hal tersebut salah satu caranya dengan menarik perhatian siswa melalui suatu permasalahan atau fenomena yang aneh namun sering terjadi, dari sanalah siswa dapat mengembangkan pola pikirnya untuk dapat berlatih dapat berlatih berpikir kritis
ReplyDeleteBaiklah saudari fira, jadiyang dapat dilakukan yaitu dengan memberi pemahaman pentingnya mempunyai kemampuan untuk berpikir kristis denagn kemudian seringnya melatih siswa untuk melakukan hal tersebut salah satu caranya dengan menarik perhatian siswa melalui suatu permasalahan atau fenomena yang aneh namun sering terjadi, dari sanalah siswa dapat mengembangkan pola pikirnya untuk dapat berlatih dapat berlatih berpikir kritis. Terimakasih saya mengerti
Delete